Sunday, May 10, 2026

Review Buku : Gagal Menjadi Manusia

BY Maya Pratiwi IN No comments


Waktu membaca bagian pembukaan, aku sedikit terkejut karena ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp. KJ. Bukan cuma karena yang menulis adalah dr. Jiemi, psikiater kenamaan di Instagram, tapi juga karena pesan yang disampaikannya. Untuk membaca buku ini pelan-pelan. Kenapa harus pelan-pelan? Pikirku saat itu.

Aku kira, buku ini akan menceritakan kisah seseorang (dalam PoV orang ketiga). Ternyata Dazai Osamu menggunakan POV orang pertama. Sehingga semua emosinya dapat tergambar lebih nyata.

Menceritakan kehidupan Yozo dari kecil hingga ia dewasa. Kehidupan yang ia bilang penuh aib dan dosa. Menceritakan bagaimana ia merasa telah gagal menjadi manusia. Meskipun banyak orang yang bilang bahwa Yozo anak baik dan pandai melawak. Tidak ada yang bilang kalau Yozo mengalami depresi tapi aku yakin setelah membaca kamu akan paham kalau hidup Yozo penuh tekanan dan sebenarnya tidak baik-baik saja.

Tidak hanya bercerita tentang peristiwanya, tapi juga emosi dan jalan berpikir Yozo. Yang akhirnya kamu, sebagai pembaca, mungkin akan sedikit paham bahwa orang-orang yang hidupnya berantakan itu tidak pernah ingin berada di sana.

Duh! Ceritanya gelap sih menurutku. Meskipun ini latar ceritanya tahun 1920an tapi sepertinya hidup manusia itu yaaa sama aja kan, baik dulu atau sekarang? Resah aja gitu membaca cara berpikir Yozo yang tidak bisa aku sangkal meskipun aku tahu itu tidak benar juga. Juga membuat resah karena Yozo merasa gagal menjadi manusia justru ketika manusia lain juga gagal memahaminya. Bahkan untuk menolong dirinya sendiri saja Yozo tidak mampu.

Dan kemudian aku bisa paham kenapa di awal dr. Jiemi menyuruh baca pelan-pelan. Agar aku juga bisa memproses sendiri cara berpikirku, pendapatku, ideku.

Untungnya, karena ini merupakan terjemahan dari novel klasik, meskipun diterjemahkan dengan bahasa yang ringan tapi tetap tidak se-casual bahasa sehari-hari. Jadi yaa, lumayan membantu lah. Maksudku, membantuku membaca lebih pelan dan memberi waktu aku berpikir untuk memahami ceritanya.

Diterbitkan pertama kali tahun 1948

Tahun ini tahun 2026, artinya novel ini diterbitkan 78 tahun yang lalu. Dan sampai sekarang masih banyak yang baca. Menurutku karena ceritanya yang terkait mental health masih relate dengan kehidupan saat ini. 

Aku suka novel ini, recommended untuk dibaca juga. Tapi kalau kamu sedang tidak baik-baik saja mungkin jangan baca dulu. Karena ceritanya suram banget. Emosinya dalem banget.

Sebagai ibu, aku relate satu hal bahwa apa yang terjadi sama Yozo mungkin disebabkan salah satunya karena ia sering diabaikan saat kecil. Juga potret keluarga yang gagal memahami Yozo.

Apakan happy ending? Sepertinya tidak bagi Yozo. Meskipun aku yakin itu ending yang diharapkan oleh mereka yang peduli. 

Saturday, February 7, 2026

Review Buku : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

BY Maya Pratiwi IN , No comments

 


Beberapa orang bertahan hidup karena harus menghidupi yang lainnya. Beberapa bertahan hidup karena merasa diberi kesempatan kedua. Yang lain bertahan hidup karena masih mengharapkan sesuatu. Kalau kamu karena apa?

Haus juga ya baca buku ini. Karena sepanjang cerita banyak cuplikan minum kopi dan menyesap rokok 😂. Saking aku menghayati ceritanya jadi rasanya butuh air mineral untuk mengguyur tenggorokanku yang pahit kebanyakan kopi saset.

Well, aku suka banget dengan gaya penulisan Brian Khrisna. Ringan dan banyak mengumpat. Ini yang membuat buku ini terasa hidup. Menceritakan tentang pencarian makna hidup dengan seringan ini rasanya sepadan kalau buku ini menyematkan logo Mega Best Seller di cover bukunya.

Buat kamu yang lagi mencari makna hidup, yang sedang kehilangan arah, yang hidupnya terasa sepi, hampa, tak bertujuan, atau bahkan mungkin ingin mengakhiri semuanya, mungkin kamu harus baca buku ini dulu. Dia gak akan ngasih kamu tips cara bertahan hidup atau nasehat untuk menemukan kembali makna hidupmu. Ia hanya akan mengisahkan cerita hidup Ale, pemuda 37 tahun yang ingin bunuh diri karena merasa hidupnya sepi dan tidak berarti. Sisanya harus kamu baca sendiri.

Banyak banget kutipan dan adegan-adegan unik yang menghidupkan, sayangnya ini buku pinjaman jadi gak bisa aku warnai menggunakan stabilo. Seperti misalnya penjual kerupuk bangka buta yang bisa bahasa inggris. Agak kaget tapi juga merasa, kenapa kaget? Emang gak boleh? Seperti yang aku tulis di kalimat pertama paragraf ini, banyak adegan unik. Adegan yang sepotong-potong tapi pesannya tetap tersampaikan. Ini membuat novelnya terasa hidup karena sebagai pembaca, aku tidak dipaksa untuk tau semua hal dibalik ceritanya. Mengutip kata-kata Brian Khrisna di buku ini, "serba taksa dan penuh enigma."

Apalagi yang aku suka? Ceritanya tidak berakhir seindah karya fiksi lainnya. Di akhir cerita, Ale juga tetap tidak dipedulikan oleh teman-teman dan keluarganya. Tubuh yang  ia pikir selalu membawa masalah juga tidak berubah menjadi lebih baik. Sama lah dengan hidup kita semuanya. Tidak ada masalah yang benar-benar hilang. Ia tetap ada di sana, mengawasi kita seperti semestinya ia berada. Hanya saja cara pandang kita berubah sehingga masalah tak lagi terasa menyakitkan.

Ayo cepet baca. 

Ini beberapa kutipan yang semoga menginspirasimu untuk membaca buku ini :
💗Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, dihadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa. (Hal 102)
💗 Apa burung pipit itu makhluk yang jahat karena memberi makan anaknya dari hasil mengambil pada yang ditanam petani? (Hal 106)
💗 Kalaupun itu gak lebih baik, setidaknya saya yakin itu bisa membuat saya lebih bahagia. Yang terbaik itu gak selalu jadi yang paling membuat bahagia. (Hal 129)
💗Hidup tuh seperti layangan. Semakin kita tarik, dia malah semakin tinggi. Namun semakin dilepas, dia malah akan jatuh. (Hal 165)
💗Tidak ada kata-kata yang tepat untuk melarang orang bunuh diri. Memintanya tetap hidup akan terdengar egois. Mendorongnya untuk mati pun tidak elok. (Hal 190)
💗Hidup mau sebahagia apa juga pasti mati, hidup susah pun bakal mati juga. Jadi saran saya, sebagai orang yang hidupnya selalu dalam kegelapan, ya hidup saja. (Hal 191)
💗Yang paling penting bukanlah selalu tentang apa yang kita lihat, melainkan bagaimana cara kita merasakan hidup. (Hal 192)
💗Bertahan dan tetap hidup adalah pencapaian besar untuk orang-orang seperti kita. (Hal 194)
💗Hidup itu seperti pertandingan tinju. Kekalahan tidak ditentukan ketika kamu jatuh, tetapi ketika kamu memutuskan untuk tidak bangkit lagi. (Hal 195)


Sunday, January 25, 2026

Review Buku : Resign - Almira Bastari

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

Judul : Resign
Penulis : Almira Bastari
Penerbit : Gramedia
288 halaman

Nemu buku ini di Gramedia pas lagi suntuk-suntuknya sama kantor. Masa gak beli.

Sebetulnya sepertiga pertama buku ini aku agak lambat ya bacanya. Karena cerita romansanya dominan banget, gak seperti ekspektasiku.

Tapi aku yakin sih buku ini pasti punya kejutan, gak mungkin sampe akhir bakal cerita romansa doang ya. Kan saya perlu pelampiasan emosi perihal kantor yang tidak bisa saya salurkan. Hhmmm

Akhirnya tetap kubaca dan bener sih. Bab-bab selanjutnya baru aku dapet banget emosi yang aku cari. Temen-temen kantor yang somplak, bos yang gak kalah semprul, aroma gosip yang menguar dari balik kubikel, juga romansa terlarang yang benci bacanya 😢.

Aku suka banget sama tokoh-tokohnya. Entah bagaimana aku juga jadi belajar sesuatu dari cara mereka menyikapi drama kantor. Juga karena mereka solid banget kalau urusan kantor. Karena memang, kadang yang bikin bertahan itu bukan kantornya atau bosnya ya, tapi temen-temennya. Atau gak juga ya?

Gak sih :). Aku juga bertahan bertahun-tahun karena BU dan gak punya nyali aja. Sad :(

Menurutku baca sih. Mungkin bisa menginspirasimu untuk tetap bertahan di kantor atau ya mungkin sebaliknya. 

Banyak banget quote-quote menarik di buku ini. Ini beberapa yang aku suka
💗 Tapi penekanan dan pengulangan pertanyaan Tigran (bos) memliki dua arti : kami memang salah dan Tigran (bos) tahu itu, atau Tigran (bos) yakin kami salah. (hal 51)
💗 "Kenapa sih dia (bos) harus ngetes kita terus? Kita kan satu institusi! Kalau dia tahu, ngomong dong! Capek gue kayak gini." (hal 51)
💗 Anak baru boleh ramah, asal jangan cari muka. (hal 55)
💗 Tempat untuk anak baru itu ditentukan dari seseru apa rahasia yang dia bawa. (hal 75)
💗 Apa yang sudah kamu kerjakan sampai kamu merasa pantas mengajukan cuti? (hal 82)

Sunday, January 4, 2026

Review Buku : Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

BY Maya Pratiwi IN No comments





Di Cover bukunya ada tulisan Mega Best Seller, sudah seharusnya kalau isinya bagus kan ya?

Tapi apa yang membuatnya bagus?

Jujur, ketika aku melihat buku ini di salah satu toko buku, yang membuatku tertarik bukan karena ia berada di deretan buku best seller tapi justru karena judulnya.


Kenapa pohon semangka? Apa yang menarik dari pohon semangka? Aku gak yakin semangka itu pohon, bukannya dia merambat? Kenapa tidak menjadi bunga matahari saja yang lebih populer? Bahkan di cover bukunya bisa kamu lihat sudah ada bunga matahari juga kan?

Dan yang menarik lainnya adalah karena penulisnya seorang Psikiater. Aku mencoba menebak kalau buku ini pasti ada hubungannya dengan mental health, self development, atau mungkin karena penulisnya psikiater mungkin isinya akan tentang bagian-bagian otak dan cara kerjanya, hormon manusia atau cara menghubungkan neuron otak?

Hehe sotoy.

Ya karena dari beberapa buku tentang mental health atau self development yang pernah kubaca, semuanya menceritakan tentang tips dan trik cara kita melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu, atau menceriatakan alasan saintifik dibalik kerja otak dan yaa pengetahuan-pengetahuan sejenis itu. Paham kan maksudku? Tapi buku ini sepertinya berbeda karena judulnya ada kata-kata "Seorang Wanita", seakan isinya menceritakan kisah seorang wanita. Iya gak sih?

Hhhmmmm kalau judulnya seperti itu sepertinya akan seperti novel yang menceritakan kisah seseorang ya? Tapi gimana ya cara penulis menyisipkan konten mental healthnya, self help atau self developmentnya atau apapun itu yang mencerminkan pekerjaan psikiater?

Loh kok makin sotoy.
Padahal dokter Tompi juga bikin lagu bukan tentang operasi plastik atau kisah melawan acne prone 😂.

Yaa begitulah.
Intinya sih dari kesemua hal itulah aku jadi penasaran sama buku ini.

Dan ternyata benar dong, ini kisah hidup seseorang! Tapi ada pesan-pesan mental healthnya gituu. Fix Menarik!

*spoiler alert*
Apakah seperti novel?
Ya mirip tapi kisah hidup wanita yang ingin jadi pohon semangka itu sebetulnya untuk membantu memberi konteks saja. Konten sesungguhnya memang fokus pada pesan-pesan berkaitan dengan mental health atau self help yang ingin disampaikan sama penulisnya, bukan fokus pada cerita hidup wanitanya. Jadi jangan kamu bayangkan buku ini sebagai novel yang akan full menceritakan kisah pemeran utama.

Apa isinya?
Secara umum menceritakan sesi konseling seorang wanita dengan dr Andreas. Karenanya, aku jadi paham konteksnya lagi ngomongin apa sih ini. Dan dari awal hingga akhir buku masih menceritakan kisah satu orang saja. Aku jadi dapet full story. 

Eh ada sih penggalan-penggalan kisah lainnya cuma ya balik lagi, kisah-kisah itu cuma ngebantu ngasih konteks saja biar pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah dicerna sama kaum-kaum kaya aku ini.

Jadi cerita awalnya ada seorang wanita yang dateng ke psikiater karena kecewa sama hidupnya. Lalu diceritakan juga cuplikan diskusi dan obrolan di ruang konseling yang disertai insight-insight dari dokter Andreas yang gak cuma membuka mata wanita itu tapi aku yakin membuka mata seluruh pembacanya. Hingga  akhirnya diceritakan bahwa si wanita ini bisa ngerasa hidupnya meaningful lagi. Semua rangkaian peristiwa itu diceritakan dengan runut, ringan dan menurut aku insightful banget.

Duh emang obrolan di ruang konseling dengan orang yang tepat itu seru banget deh!!💓

Kutipan menarik?
Ini beberapa kutipan yang semoga bisa membantu meyakinkanmu untuk baca buku ini juga. Aku coba kategorikan sendiri sesuai bagian yang aku rasa aku temukan di buku ini :

❤ Kecewa : Kalau hari-harimu terasa berat, memang "kita butuh orang jahat untuk disalahkan dalam hidup kita" (hal 38). Jangan cuma selesai disini, baca lagi kelanjutannya di buku dan aku yakin bisa mengubah caramu melihat masalahmu yang berat itu.
❤ Mencari bahagia : definisi bahagia dalam 3 kata, "Tiap orang berbeda" (hal 51), "Menemukan rasa takjub" (hal 61), "Menikmati jalannya waktu" (hal 66). Definisi mana yang menurut kamu pas banget?
❤ Menyesali hidup : "Maka berhentilah untuk melihat suatu pilihan sebagai baik atau buruk. Cobalah untuk melihatnya sebagai pilihan yang disadari atau tidak disadari" (hal 133). Part ini sungguh menampar.
❤ Bertahan : "Tidak apa, bila yang bisa kamu lakukan hanya bertahan. Seseorang sering disalahkan ketika seolah tidak melakukan apa-apa. Padahal, di dalam dirinya, dia melawan arus yang begitu kuat." (hal 165)
❤ Menerima : "Dalam filosofi Jepang, wabi-sabi mengajak kita untuk menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan." (hal 185)  Apa itu wabi-sabi? Baca sendiri deh di bukunya 😉. Tapi quote yang aku suka karena relate banget sama aku, "Kamu boleh jadi perfeksionis" (hal 186). Hahahaha, ini sih memvalidasi hobi dan beban hidupku sendiri. Cuma banyak syaratnya kalo kata dokter Andreas 😔.

Sudah, jangan terlalu banyak spoilernya. Aku janji kamu gak akan nyesel baca buku ini. Tapi jangan pinjem punyaku karena aku pelit.

Sunday, September 14, 2025

Perempuan yang Pindah Kerja di Usia 30an Tahun

BY Maya Pratiwi IN , , , , , No comments

Sepertinya pindah kerja di usia berapapun sudah menjadi hal yang lumrah belakangan ini. Mungkin banyak orang yang sadar bahwa kadang ada hal-hal yang tidak perlu dipertahankan.

Lagi pula kalau penawarannya lebih baik, kenapa tidak dicoba kan?

Lalu apa yang membuat bagi sebagian orang, termasuk aku, pindah kerja menjadi begitu sulit?

Bagiku, ya karena memang tidak mudah keluar dari zona nyaman kan? Zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ini. Tapi kadang ketidaknyamanan yang sudah familiar rasanya lebih bisa ditoleransi. Sedangkan kalau pindah kerja, meskipun sebutlah penawarannya lebih baik, meskipun gajinya naik dan bisa jadi kehidupan finansial menjadi lebih baik, tapi ada banyak hal yang masih belum tau akan seperti apa. Bisa jadi aku akan menghadapi rasa tidak nyaman yang tidak familiar dan itu membuatku takut. 

Kecuali memang punya alasan yang kuat semacam perusahaan lama mau bangkrut, ancaman PHK di perusahaan lama, atau memang gajinya sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup. Atau kadang-kadang kita juga punya alasan personal lainnya seperti pindah ke kota yang diimpikan, kepastian status karyawan, dekat dengan keluarga atau pekerjaan yang sesuai passion.

Pada akhirnya memang pindah ke tempat baru akan selalu membutuhkan alasan yang kuat. Lebih kuat dari ketakutan yang hinggap. Alasan yang mampu mendorong kita untuk berani bergerak.

Lalu bagaimana jika aku gak yakin dengan apa yang aku cari?

Aku yakin diluar sana ada ribuan orang yang berharap bisa menggantikan posisiku bekerja di pekerjaan lamaku. Karyawan tetap, gaji naik tiap tahun, bonus, THR, fasilitas kesehatan, dan jelas bukan perusahaan kaleng-kaleng.

Tapi entah kenapa dan bagaimana, dorongan untuk untuk pindah begitu kuat. Sangat kuat hingga aku gak bisa memproses semua perasaan yang muncul, gak bisa berpikir jernih, overwhelmed. 

Harusnya sih disini aja ya, kan udah nyaman. Tapi kok pengen pindah ya? Kenapa ya aku entah kenapa pengen pindah? Padahal disini enak. Pengen pindah tapi kok takut ya? Nanti bisa ngurus anak ga ya? Nanti sibuk banget ga ya? Nanti orang-orangnya supportif ga ya? Kerjaanya beda tapi sama yang sekarang. Bisa ngejar ga ya? Bisa perform ga ya? Keliatan bego ga ya? Tapi udah tua, masih bisa belajar ga ya?

Itu sebuah transformasi besar di pusahaan yang aku bekerja saat itu. Membuka peluang ribuan karyawan untuk pindah ke anak perusahaan. Iya betul, ada benefit secara finansial yang menggiurkan. Tapi jelas terlalu kecil untuk mengkompensasi semua risiko yang bisa timbul saat itu.

Ayolah, semua orang saat itu berusaha mencari tempatnya masing-masing. Transformasi organisasi mana yang membuat nyaman? Semua orang jelas mencari perlindungan. Sebagian besar memanfaatkan untuk kabur dari situasi rumit, sebagian mencari perlindungan agar tidak masuk ke situasi yang rumit.

Aku gimana?

Seperti menghadapi sebuah persimpangan takdir. Sulit sekali. Iya, aku gak tau apa yang aku mau. Semua nasehat bermuara ke satu kesimpulan yang sama. Tetap disini.

Apa lagi yang dicari seorang perempuan beranak satu yang sebentar lagi tenggelam dalam usia? Apalagi yang dicari ketika semua nyaman sudah ada di depan mata? Karir macam apa yang dikejar? Pekerjaan macam apa yang dicari?

Ada ragu. Ada perasaan bersalah pada keluarga. Ada ketakutan karena aku tidak familiar dengan pekerjaannya, dengan lingkungannya, dengan orang-orangnya.

Alih-alih diam ditempat meredakan ragu, aku menantang diriku sendiri, bergerak kesana kemari mencari tau apa yang membuat takut. Menantang untuk menghadapi rasa tidak nyaman yang tidak familiar ini.

Pada akhirnya aku memilih untuk pindah.

"Menjadi perempuan, menjadi ibu itu sulit ya. Tapi barangkali Kayla bisa belajar dari ibunya tentang bagaimana ia harus berusaha mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan." - kata seseorang.

Saat itu, aku kembali merenungi perjalanku menjadi ibu 7 tahun belakangan. Rasanya ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak hal yang aku lakukan. Ada banyak hal berubah dariku. Prioritasku berubah, cara berpikirku berubah, tidak lagi tentang aku tapi selalu tentang anakku. Dan di satu titik aku menyadari bahwa tidak adil bagi siapapun, terutama anakku, untuk menyebut apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah pengorbanan. Karena nyatanya aku sendiri yang memilih untuk melakukannya. 

Dan aku memilih untuk menjadi ibu yang sadar dengan pilihanku, bukan menjadi ibu yang berkorban untuk anaknya.

Iya, aku memilih pindah. Seperti semua orang pada umumnya, aku mencari tempatku sendiri. Tempat yang kuharap bisa menjadi ruang yang nyaman untuk tumbuh dan merasakan bahagia.

Selain juga karena aku menyadari bahwa aku tidak terlalu fit dengan pekerjaan lamaku. Dari semua sisi. Ternyata bersyukur di waktu yang tidak tepat itu tidak selamanya benar ya. Kadang hanya akan membuat keadaan menjadi lebih rumit. Perasaan yang tidak tervalidasi. Usaha-usaha yang terlalu keras untuk baik-baik saja. Semacam pretend to be happy.

Tentu aku bisa menyadari semua itu ketika pada akhirnya aku keluar dari lingkaran itu dan menengok kebelakang untuk melihat semuanya lebih jelas dari kejauhan.

Jadi apa kesimpulannya? 😊

Tidak ada. Tidak semua cerita harus ada kesimpulannya. Kadang ia hanya sebuah cerita yang perlu diceritakan atau perlu didengar 😂.

Satu hal yang aku yakin adalah untuk percaya pada insting. Tuhan memberiku berbagai macam perasaan-perasaan yang rumit ini bukan tanpa alasan. Dia ingin menunjukkan sesuatu. Dan kadang melihat terlalu dekat itu membuat pandangan kita bias, kita perlu sedikit menjauh dan melihatnya kembali untuk bisa menikmatinya.

Dan untuk semua perempuan dan ibu diluar sana, terlalu banyak membuat keputusan demi keluarga itu bukan hal yang bijak. Rasa lelah kadang membuat kita merasa terlalu banyak berkorban padahal semua keputusan kita yang mau. Kadang kita perlu membuat keputusan demi diri kita sendiri. Semua anak berhak punya ibu yang bahagia.

Saturday, August 3, 2024

Apa iya semua sekolah swasta sama?

BY Maya Pratiwi No comments

Aku butuh waktu 4 tahun untuk memutuskan SD yang pas buat Kayla.

Katanya, "people will give effort to what important for them". Mungkin semesta mengamini usahaku. Aku belum juga punya rumah ketika tiba waktunya Kayla masuk SD. So yah, aku tidak mempertimbangkan jarak rumah ke sekolah karena dimanapun sekolahnya maka aku akan mencari tempat tinggal di dekatnya.

Jika benar semua sekolah sama, aku kira tidak akan banyak sekolah swasta bermunculan. Jika benar semua sekolah sama, aku kira tidak akan ada akreditasi dan sejenisnya. Dan jika benar semua sekolah sama, maka kita tidak akan pernah mendengan narasi tentang sekolah favorit. Memang, kualitas sekolah itu tidak bisa diukur dari nilai ekreditasi, atau biaya bulanan, atau jumlah siswanya. Karena kualitas sekolah bagiku sangat subjektif. Dan itu juga akan tergantung seperti apa kualitas penilainya.

Pertama, aku & suami merasa punya privilege karena punya cukup tabungan yang membuat kami lebih leluasa memilih sekolah untuk Kayla. Karena banyak orang yang tidak punya banyak pilihan karena keterbatasan biaya. Kedua, memiliki pasangan yang punya visi yang sama untuk pendidikan anak juga sebuah privilege penting buatku. Banyak orang tua yang aku yakin belum punya goals yang jelas untuk pendidikan anaknya. Merasa bahwa sekolah hanyalah sebuah bagian kehidupan yang seyogyanya memang harus dijalani. Bahkan mungkin mereka tidak benar-benar paham sekolah macam apa yang anak-anaknya masuki.

Aku merasa beruntung punya 2 (dua) privilege itu, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku kesampingkan rumah baru, mobil cantik, dan barang-barang branded. Bukan karena aku tidak mampu atau tidak ingin. Tapi karena aku punya prioritas lain. Kalau kata orang, pendidikan anak adalah investasi, maka seharusnya kita benar-benar  perlu memikirkan portofolio apa yang paling bagus kan? Dan kayaknya ini juga bukan sebuah pengorbanan ya, karena bagaimanapun juga ini bentuk tanggung jawab pada anak.

Rumah sejatinya hanya sebuah tempat berteduh dan mobil hanya sebuah sarana. Tapi anak-anak adalah penolong saat nanti orang tuanya tiada. (kata orang yang duitnya pas-pasan kaya aku)

Ada banyak sekolah berbasis agama di kota ini. Tapi ya aku tidak mau menutup mata. Karena kadang itu hanya judulnya saja, tidak tercermin dari kehidupan di dalam sekolahnya. Karena bagiku, keyakinanku pada satu agama itu tidak hanya melekat pada "ritual" keagamannya saja. Wow sungguh berat statementku barusan. Ya artinya, pun jika itu memang sekolah agama aku akan tetap melakukan survey dengan kurikulum dan kegiatan belajar mengajarnya. Tidak serta merta menyerahkan pilihanku begitu saja.

Jadi sekolah seperti apa yang aku cari?
Oooh jelas macam-macam 😅. Pada awalnya banyak hal yang aku inginkan. Aku ingin sekolah yang bisa membantu Kayla mengenal dirinya sendiri. Sekolah yang tidak hanya menilai Kayla hanya dari satu sisi yang mereka mau saja. Sekolah yang toiletnya bersih. Yang ini, yang itu. Macem-macem. Sangat demanding ya. Tapi setelah survey ke lebih dari 10 sekolah (baik yang survey onsite, online dan nanya-nanya ke temen) akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan Kayla ke sekolah yang tidak untuk semua orang. Bukan karena mahalnya tapi karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat value dari sekolah itu. Karena aku yakin setiap sekolah itu punya segmen-nya masing-masing. 

Katanya, sekolah swasta itu tipikal sekolah "nyaman". Dan tidak ada pahlawan yang lahir dari keadaan nyaman. Apa iya sekolah yang membuat Kayla nyaman akan melemahkannya? Hhhmm yaa aku juga tidak tau. Kehidupan masa kecilku sendiri tidak seberuntung orang beruntung 😌, masih bisa aku rasakan kemarahan masa kecilku kepada orang-orang b******k yang aku yakin punya andil pada kehidupanku saat ini. Jadi aku harap di lingkungan yang nyaman itulah ia bisa lebih tenang mengeksplorasi dunia. Alasan yang sama mengapa taman bermain anak-anak dialasi sandbox atau bantalan karet.

Katanya, anak-anak yang sekolah di sekolah swasta itu kurang membumi dan barangkali kehidupannya terlalu ideal untuk menjajaki kehidupan sesungguhnya. Masa sih? Memangnya kamu tinggal dimana? Tetanggaan sama Rafi Ahmad? Memangnya kamu satu circle sama Maudi Ayunda? Kalau aku sih masih tinggal di komplek perumahan yang kalo anaknya tetangga nangis masih bisa kedengeran sampe rumah (saking sempitnya rumahku), masih suka keliling naik motor sore-sore nyari gorengan, masih lebih suka beli sayur di pasar meski becek, masih mikir-mikir kalo mau beli baju di shop** atau makan malem cuma mi rebus doang juga masih kok. Hidup aku mah masih membumi, cuma sekolah anakku aja yang kalo bisa jangan di negeri. Wkwkwk becanda

Yaaa kalau boleh berandai-andai. Andai dulu aku gak diketawain saat belajar bahasa inggris, aku yakin aku bisa belajar bahasa inggris lebih cepat dan bisa kuliah di luar negeri. Andai dulu lingkungan sekolahku supportif, aku gak akan menahan diri karena takut bertanya lalu bisa jadi lebih hebat dari sekarang. Andai lingkunganku ga rese, aku yakin aku bisa lebih berani bersuara untuk diriku sendiri. Andai teman-temanku tidak merundungku gara-gara aku ranking 1 terus, mungkin aku bisa lebih percaya diri dengan kemampuanku. Dan perandaian lainnya yang membuatku yakin bahwa aku harus ngasih ruang yang tepat buat Kayla.

Dan kamu tidak lupa kan sekarang ini dunia sudah menjadi seperti apa? 

Bangun dan lihat sekelilingmu. Dunia sudah berubah. Kedamaian dan lingkungan yang aman seperti saat kita kecil dulu sudah hilang dan berubah. Apa kamu tidak pernah melihat, membaca, atau mendengar berita pembunuhan, penculikan, kekerasan seksual, pornografi? Apa kamu pikir orang-orang masih sama seperti dulu?

Iya, rasanya aku ingin bilang kalau, "bukan dunia yang berubah, itu hanya aku yang terlalu takut". 

Tapi, bagaimanapun juga. Jangan terlalu percaya sama tulisanku. Aku bisa berpendapat seperti ini karena seperti yang aku sebutkan di atas, aku punya privilege. Andai aku tidak punya privilege, niscaya tulisanku tidak akan seperti ini. Pun karena anakku baru 1. Kalau latar belakang kita beda, prioritas kita beda, dan tujuan kita beda maka akan sangat mungkin kita juga berbeda pandangan soal ini kan? 

Tapi saran aku sih, kalau kamu punya uang lebih, jangan pelit soal sekolah anak. Karena sekolah, apalagi sekolah dasar itu akan anak-anak kita bawa sampai selamanya di kehidupan dia. Dan karena sekolah gratis itu belum untuk semua kalangan dan semua sekolah, jadi kenapa gak sekolah gratis kita prioritasin buat mereka yang kurang mampu aja? Kamu yang mampu, sekolahin tempat lain.

Saturday, July 15, 2023

Kehidupan Baru

BY Maya Pratiwi No comments

Gak terasa, lusa Kayla akan masuk SD.

Aku kadang gak paham bagaimana aku bisa sampai di titik ini. Sampai di titik ketika aku akan nganterin anakku masuk SD, masuk ke dunia anak besar untuk pertama kalinya. Melewati 7 tahun yang tentu saja banyak hal yang udah terlewati. Sejak dia cuma bisa menyusu sama nangis, buka mata pertama kali melihat dunia, jatuh bangun belajar jalan, naik sepeda pertama kali, sampai akhirnya ada di titik ini. 

Buat aku masuk SD itu bukan momen yang biasa. Itu akan jadi hal yang luar biasa banget. Bayangin gak sih, dunia anak SD itu bener-bener gerbang pertama anak kita akan masuk ke dunia anak dewasa untuk pertama kalinya. 

Pertama kalinya nanti mereka harus mandiri, menyelesaikan masalahnya sendiri, gak lagi mengadu. Disiplin dengan aturan. Mengerjakan tugas sendiri. Mungkin akan menghadapi konflik pertemanan sesungguhnya untuk pertama kali. Mungkin akan menghadapi ketakutan mencoba sesuatu, saat dirusuh roll belakang misalnya 😂. Tentu ada waktunya nanti untuk pertama kalinya Kayla akan pergi jalan bareng temen-temennya, hangout sama mereka. Dan tentu saja buat anak perempuan, mereka akan menghadapi menstruasi pertama mereka.

Jujur aku setengah takut menghadapi ini.

Rasanya kayak gak pengen Kayla cepat besar. Tapi juga tidak sanggup kalo terus menerus jadi anak kecil 😂. Seperti mempertanyakan kemampuanku sendiri. Bisa gak ya.

Aku tau ngurusin anak bayi itu susah banget. Aku pernah disana, ngerasain babak belur 24 jam gak berhenti mikirin anak. Tapi ngurusin anak beranjak baligh tuh kayak level lebih susah gitu. Mereka tuh udah punya karakter, punya cara berpikirnya sendiri, kehidupan mereka udah setengah lepas dari kita, dan yaa aku mulai overthinking aja sih 😆😆.

Dan bulan Juli tahun ini sungguh tantangan besar buat aku. Di bulan ini aku pindah kerja. Dunia yang bener-bener baru buat aku. Merasakan beratnya beradaptasi di umur yang udah gak muda. Adaptasi dengan orang baru, adaptasi dengan pekerjaan baru yang beda banget sama kerjaan lama, adaptasi dengan kebiasaan baru. Dan kutau ini gak mudah. Kadang rasanya kaya pengen putar balik tapi, "heeey, gak bisa. Jangan nyerah. Kayla juga bakal menghadapi dunia barunya. Jangan lemah, dia juga butuh sandaran."

Sebetulnya Kayla sih excited banget ya mau masuk SD, mau ketemu temen-temen baru. Pernah aku tanya, "apa rasanya mau masuk sekolah baru?" Katanya, "seneng lah mau ketemu teman-teman baru." Lega dengarnya, meskipun pernah suatu kali Kayla bilang, "Mimi Kayla ingin jadi anak kecil lagi." Atau, "Mimi Kayla rindu teman-teman Kayla yang lama." Aku paham banget perasaan itu. Perasaan ingin kembali ke masa lalu karena khwatir apa yang ada didepanku tidak sebaik yang lalu. Merasa sudah tau dengan apa yang akan dilalui dan paham harus berbuat apa. Sedangkan menghadapi hari esok seringkali masih abu-abu. Perasaan rindu teman lama, yang sudah kita tau baik buruknya, yang sudah menerima kita apa adanya. Kekhawatiran teman baru yang gak akan mengerti kita. Kekhawatiran orang baru tidak sebaik yang lalu.

Tapi..

Yaa salah satu bagian menjadi orang dewasa adalah menyadari bahwa ada takdir yang harus dijalani. Ada tahapan kehidupan yang emang harus dilalui. Pengen duit ya harus kerja, pengen sehat ya harus usaha, pengen pinter ya harus belajar dan lainnya. Dan kadang kita cuma butuh faith. Percaya bahwa semua akan baik-baik aja. Kalau sekarang lagi sedih, percaya deh besok atau lusa atau minggu depan atau bulan depan kamu akan baik-baik aja. 

Jalani sebisaku, usaha semampuku, percaya sepenuh hati.

Masalahnya kayaknya belum bisa sih ngasih tau Kayla kaya beginian 😂. Anak-anak ini kan masih perlu contoh yang real #menghelanapas.

Aaah sudahlah, apapun yang terjadi di sekolah dan setelahnya, peluk mimi sebanyak yang Kayla mau. Cerita ke mimi sebanyak yang kayla mau. Menangis ke mimi sesering yang Kayla mau. Menjadi rumah yang nyaman sepulang sekolah. 

Kayla gak perlu jadi kuat di depan mimi. Mimi tau Kayla sudah seharian menjalani mode bertahan tanpa mimi, tanpa abi. Makasih 💖

Dan untuk diriku sendiri 😆, mari kita saling menguatkan untuk melalui semua ini #pelukdirikusendiri.

Thursday, June 22, 2023

Beyond Grateful

BY Maya Pratiwi No comments




Aku gak terlalu pandai ngomongin tentang insecurity. Pertama karena mungkin aku belum berhasil mengatasinya, kedua karena aku tau aku bukan siapa-siapa yang tentu saja tidak bisa "menjual" insecurity-ku sendiri.

Tapi, akhir-akhir ini aku tersadar bahwa bagaimanapun aku, baik dan buruk yang ada pada diriku, ini tetaplah diriku sendiri. Seringkali kita (aku) ingin berkenalan baik dengan orang lain, bersikap baik pada orang lain agar mereka menerima kita, tapi sering kita lupa untuk berkenalan baik dengan diri kita sendiri. Seperti aku.

Aku mengenal diriku seperti apa yang orang bilang padaku. Sehingga seakan-akan apa yang orang lain bilang itu benar, yang seringkali aku hanya mengingat bagian buruknya saja. 

Seperti sebagian besar penyebab insecure pada perempuan, aku pun merasa penampilanku tidak cukup baik. Karena tidak memenuhi standar kecantikan wanita Indonesia. Kulit putih bersih, rambut panjang lurus, lalu apalagi sih?

Kulitku sawo matang, terlalu matang mungkin. Tidak mulus seperti orang lain. Mungkin mukaku juga tidak simetris, gigiku perlu pake bracket, mukaku berminyak, hampir seperti penggorengan. Rambutku keriting sejak kecil dan aku tak pernah berniat membuatnya lurus meskipun pernah ada masa ketika rambut rebonding itu menjadi tren. Belum lagi aku anak yang manja, tidak bisa memasak, pemalas, serta beberapa “aib” lain yang tidak sanggup aku sebutkan lagi.

Ironi sekali. Aku udah jadi anak kos sejak dari SMA hingga sekarang, pergi ke berbagai kota di pulau jawa sendirian dan si anak manja itu masih melekat pada diriku. Aku memasak untuk bekal makan siang dikantor setiap hari, aku menyelesaikan sendiri pekerjaan rumah, aku memenuhi kebutuhan hidupku sejak lama dan si pemalas yang tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga ini melekat di diriku. Kenapa? Karena aku dan orang lain selalu melihat keatas. Membandingkanku dengan orang lain yang jauh lebih mandiri, jauh lebih tangguh, jauh lebih segala-galanya dibandingkan aku.

Sayangnya, aku tidak pernah bisa memilih untuk dilahirkan menjadi seperti apa. Dan jika itu semua diturunkan secara genetik, akupun tidak bisa memilih untuk dilahirkan dari siapa kan? Ini yang aku dapatkan sejak lahir, tidak ada yang lain bukan?

Ini tulisan yang sangat serius. Karena aku tidak pernah seserius itu dihadapan orang tentang hal ini. Selalu haha hihi dan cenderung lebih sering menhina diri sendiri sebelum keduluan yang lain.

Tapi aku tau ada seseorang yang sedih di dalam sana.

Sejujurnya, meskipun banyak hal yang membuatku tidak percaya diri tapi aku selalu percaya bahwa diriku jauh lebih baik dari yang orang pikir. Dan aku tau suatu hari nanti akan ada orang-orang yang dengan tulus hati menerimaku apa adanya. Yang dengan tulus hati menyadari ada sesuatu yang baik dari diriku.

Lucky me, aku ketemu kak Rudy.

Beberapa orang berpikiran dia beruntung mendapatkanku. Tapi sejak dulu aku selalu berpikir bahwa aku yang beruntung. Dia orang asing, bukan siapa-siapa lalu pada akhirnya bisa melihat aku jauh lebih baik dari diriku sendiri. I am Beyond grateful.

Haha, tapi aku bukan wanita desperate. Bukan karena dia mau sama aku lalu aku jadi “yaudalah sama dia aja”. Enggak gak gitu sih.

Dan kamu tau gak sih, penyebab rasa gak pede itu bisa jadi sepele banget ya tapi efeknya dalam hidup tuh bisa kemana-mana. Aku benci banget

Rasanya selalu butuh validasi dari orang lain sebagai pembuktian. Itu capek banget

Dan hari ini aku ke Jogja sendirian. Menggelandang di stasiun sejak jam 3 pagi sampai jam 5. Kedinginan, ngantuk tapi ga bisa tidur di kursi. Mandi di kamar mandi mahal. Lalu berkeliling magelang. Menelusuri jejak kenangan disana. Bertemu kawan lama. Jalan kaki menyusuri trotoar sampai ketekku basah, mencoba menikmati setiap langkahku dibawah terik matahari.

Meskipun aku bisa saja bepergian dengan teman atau keluarga, tapi aku memilih pergi sendiri. Dan itu tidak apa-apa, aku tetap happy, aku bisa bebas melakukan apa yang aku suka. Ketika aku bisa naik becak atau naik ojek atau naik angkot, tapi aku memilih berjalan dan menikmati perjalananku sendiri. Itu juga tidak apa-apa. Aku masih menikmatinya. Aku tetap menikmati jalan kakiku meskipun ratusan kali melihat orang lain naik kendaraan lebih cepat dari jalanku dan beberapa kali ditawarin naik becak. Sesekali aku berjalan mendahului orang lain. Sesekali aku berhenti di depan toko, bercermin dan memperbaiki kerudungku.  

Mungkin seperti itulah seharusnya hidup. Aku bisa memilih jalanku sendiri, tidak harus menjalaninya seperti orang lain.

Yaah pada akhirnya aku merasa seperti menemukan hidupku yang baru. Aku ingin memilih jalan hidupku sendiri. Aku ingin terbebas dari ekspektasi orang lain. Aku ingin terbebas dari standar standar kehidupan yang membelenggu yang seringkali tidak jelas apa dasarnya (bukan, aku bukan lagi ngomongin agama, selain itu). Aku ingin menjalani kehidupan ini seperti apa adanya. Tidak apa-apa tidak seperti orang lain, tidak apa-apa tidak sempurna, karena pada akhirnya yang akan menemaniku sampai kapanpun adalah diriku sendiri.

 

Saturday, December 10, 2022

Pertama Kali Nulis Buku

BY Maya Pratiwi No comments

Bulan terakhir tahun ini. Haaa udah mau tahun baru ajaaa, udah lewat satu tahun udah ngapain ajaaa 😆😱

Tahun ini, yang penting adalah akhirnya aku udah dapet SD buat Kayla. titik

Aku udah cerita disini kalo nyari SD buat Kayla itu bener-bener perjalanan yang emosional buat aku. Mungkin buat orang lain terlihat mudah tapi bagiku enggak. Sama sekali ga mudah.

Bukan cuma karena pasti ada value value tertentu yang aku pengen ada di SD Kayla tapi juga karena aku punya pengalaman buruk semasa SD jadi aku beneran tidak mau itu terjadi sama Kayla.

Tapi tapi tapi ada hal tak terduga yang terjadi di bulan ini.

Aku nulis buku...!! 🥳🥳

Haha yaah bukan buku yang gimana gimana sih 👉👈. Aku ikut project nulis gitu. Sebenernya semua orang bisa ikut project nulis ini asal daftar, bayar, dan ngumpulin. Karena semua naskah bakal diterima sebenernya. Hhhmmmm

Merasa agak kurang spesial gitu sih awalnya. Soalnya semua naskah diterima. Jadi kaya ga ada prestasi-prestasinya gitu ga sih wkwkwk. Mana ternyata itu buku yang ngejual ya penulisnya sendiri. Aduuuuh jualan legging, baju, dan mukena aja aku malunya setengah metong. Ini disuruh jualan buku sendiri 😖. Siapa guee ngejual tulisan sendiri ya kaaan 😪

Tapi udah terlanjur bayar bund, sayang duit

Yawdahlah aku kerjain aja.

Ternyata ini project 3 buah buku dengan topik beda-beda. Setiap buku hanya dikasih waktu 1 minggu untuk nulis naskah. Nah disini aku jadi agak tertantang nih. Jadi pas akhirnya bisa ngirim naskah pertama tu aku happy banget ya ampuuuun 😆. Kayak yang "widiiiih aku bisaaaa". Bisa ngirim tepat waktu maksudnya wkwk

Tapi asli deh nulis buku ternyata gak gampang. Nulis blog aja kadang gak gampang loh. Kendalanya kalo aku nulis tuh, rasanya ada banyak hal yang pengen aku ceritain tapi pas nulis tuh yang keluar dikit banget. Cek deh tulisan aku yang ini. Aku tuh udah niat banget pengen ngreview film ini karena pas nonton tuh kaya dapet insight gitu. Tapi pas nulis aku jadi bingung sendiri mau ngomong apa gitu.

Lalu, kalo blog itu rasa-rasanya ya nulis aja sesuka hatiku ya. Tapi pas nulis buku tuh aku merasa kaya ada tuntutan gitu lho. Secara orang mau baca buku itu tuh kudu beli ya kan. Gak gratis kaya baca blog. Jadi pasti pembacanya itu menginginkan sesuatu lah dengan baca buku itu. Punya ekspektasi. Entah dari ceritanya yang relate sama mereka, atau gaya bahasa yang gak bosesnin, atau hikmah dari ceritanya. Jadi lebih berasa punya tanggung jawab untuk deliver message yang tepat gitu.

Mana itu naskah kan dikasih minimal kata 1.500 yah. Trus pas aku mulai nulis tu kaya, "lah ini kok baru 700 udah beres sih." Soalnya kan misal nih kita mau nyeritain konflik anak durhaka sama ibu, ya langsung inti cerita gitu kan ga akan nyampe 1.500 kata kan. Jadi kaya bikin cerita tambahannya tu juga perlu mikir biar ga aneh, biar nyambung sama inti cerita. Dan seperti biasa, aku kalo bikin penutupan suka bingung sendiri wkwkwk

Tapi tapi, gitu naskah pertama aku kirim. Lalu aku baca ulang, aku kayak "iiih aku kok bisa sih kmaren nuliiis iniii." So proud sama diriku sendiri 👍

Belum tentu kalo disuruh ngulangin lagi bisa. LOL

Yaaah tapi aku senang sih karena aku berani ambil langkah pertama ini. Meskipun itu ga akan jamin aku akan jadi penulis, meskipun ga akan menjamin masa depanku juga. Tapi berani untuk nyoba hal baru ini udah bagus banget.

Hahaha kok kaya terlalu bangga gini sih

Ya soalnya semudah apapun yang aku pikir aku lakukan, kaya ceritaku di awal, gak semua orang melakukan kan? Kalo aku bilang, "elah ini mah project nulis semua orang juga bisa kali ikut dan nerbitin buku." Faktanya ga semua orang melakukannya kan? Yaaaah, mau meluangkan waktu untuk melakukannya aja udah bagus. Karena "bisa" tidak akan cukup kalo ga kamu lakuin juga.

Tapi sejujurnya aku deg-degan juga sih sama yang udah PO ke aku 😂😂

iiiih tulisan aku dibacaaa merekaa, temen-temen sama tetangga akuuu. Gimana dooong. Nanti apa kata mereka yaaa. Nanti kalo pada ga suka gimanaaa. Nanti kalo mereka ga ngerti aku nulis apa gimanaa dooong. Huhuuu diketawain gaa. Nanti kalo nanti kalo nanti kalo......

overthinking

Tau ah. Aku udah capek nulisnya. Kalo ga suka yaudah lah aku ga mau nulis lagi 💥

Haha. Ya entahlah, aku juga gatau hahaha. Let see aja apa kata mereka. Namanya juga pertama kali. Gimana sih pertama kali kalo ga perfect ga papa kali ya (?). Aku sih berharapnya mereka suka. Tapi kalo ternyata tidak ya itu diluar kendaliku juga

Semangat mayaaaw \(>.<)/

btw kalo mau baca buku aku, ikut PO tgl 17 Des ya, DM aku di IG 😝
Klik : IG Maya

Monday, September 12, 2022

Momen masuk SD

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

Mencari sekolah untuk anak bagiku bukan perkara mudah. Sangat sangat sulit dan bahkan sampai membawaku harus beberapa kali konsultasi dengan psikolog. Aku punya pengalaman buruk saat aku SD, bullying. Tidak bermaksud mewajarkan bullying dikalangan anak-anak tapi aku tau kasus seperti ini sangat banyak terjadi.

Menjadi anak salah satu guru di tempatku bersekolah tidak serta merta memberiku privilege seperti orang lain, setidaknya tidak seperti yang mereka bayangkan. Lucky me, aku langganan ranking satu. Mungkin mereka pikir itu bukan karena kemampuanku sendiri, tapi karena ibuku seorang guru. Sepanjang yang aku ingat, mereka ga cuma menyerangku secara verbal tapi juga fisik. Aku pernah dilempar bungkus minuman kotak, pernah dilempari kertas, pernah dilempari kodok, pernah diludahi, pernah juga di pukul pake kayu. Ditertawakan saat maju kedepan kelas, tidak ada yang boleh duduk sama aku, diancam setiap kali ulangan/ujian gak ngasih contekan. Dan seniat itu mereka selalu ngganti meja dan tempat dudukku jadi yang paling jelek dimanapun aku duduk. Sinting memang 😆😅

Teringat suatu pagi, maya kecil berkata pada dirinya sendiri "Aku pernah mengalami hari yang buruk dan akhirnya hari buruk itu berlalu. Jadi aku pun bisa menghadapi hari ini". Baiknya Allah padaku memberikan aku perlindungan hingga aku masih bisa hidup dan berdaya hingga saat ini. 

Entah berapa kali aku menangis tapi tentu saja orang akan menganggap biasa anak-anak yang menangis karena ulah temannya bukan? Tidak jarang mereka bilang "masa gitu aja kalah, lawan balik lah", "masa gitu aja nangis". Haha, kukira aku tidak sekuat kalian untuk menghadapi mereka dengan perlawanan. Aku sudah cukup kuat dengan melawan rasa takutku sendiri untuk pergi kesekolah. Jika boleh aku memberi saran, beberapa anak terpacu untuk melawan dan bisa jadi itu baik buatnya tapi beberapa anak hanya ingin seseorang menemaninya untuk menghadapi rasa takutnya. Sama dengan beberapa orang yang lagi curhat itu tidak butuh solusi tapi hanya butuh didengarkan.

Ingin rasanya memeluk Maya kecil, mengusap kepalanya, mengecup keningnya, menenangkan tangisnya, membesarkan hatinya. 

Aaah, menjadi ibu rupanya membuatku membuka dan merawat kembali aku kecil yang pernah terluka :'). Luka lama yang bertahun-tahun aku simpan, aku jaga agar tidak tampak dari permukaan tapi terbuka kembali saat momen masuk SD harus aku hadapi lagi sebagai seorang ibu.

Akumulasi pengalaman itu yang akhirnya membentukku saat ini. Tidak ingin menyalahkan siapapun, tapi tidak juga ingin melupakan apa yang pernah terjadi. Hanya saja aku tau bahwa masa laluku tidak mendiskripsikan aku dimasa depan. Menjadi apa aku dimasa depan adalah hasil keputusanku saat ini.

Sempat viral saat itu, seorang artis muda yang membuat geger karena video youtubenya yang meluapkan ekspresi marah dan menangis dan membuatnya disangka mengalami gangguan jiwa. Jika boleh aku sampaikan, itu hal yang ingin aku lakukan setiap kali aku mengingat masa kecilku. Ingin rasanya aku sampaikan pada orang diseluruh dunia betapa jahatnya teman-temanku. Ingin aku sebut namanya satu-satu, mengharapkan mereka menangis berlutut meminta maafku, lalu aku lihat hidupnya hancur seperti hancurnya perasaanku dulu. Ah tapi nanti aku disangka gila juga 😂

Enggak lah..

Salah satu dari mereka pernah meminta maaf dan seingatku aku maafkan. Ya apalagi yang harus aku lakukan? Menahan maafku juga tidak membuat masa laluku berubah menjadi indah. Apa bedanya aku dengan mereka jika tidak berani memberikan maaf? Jangan samakan aku dengan mereka, meskipun memafkan bukan berarti melupakan. Dalam konteks ini, memberi maaf bagiku seperti mengatakan bahwa, oke aku tidak akan membalas apapun, silahkan pergi.

Aku berusaha untuk berdamai dengan masa laluku. Aku berusaha merawat kembali aku yang dulu. Tidak lagi aku membandingkan diriku dengan orang lain karena orang lain tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Meskipun masih tersisa ketakutan besar jika apa yang terjadi padaku akan terulang pada Kayla. Aku berharap tidak tapi sungguh ketakutan itu tidak bisa aku redam. Aku tidak mau sembarangan mencari sekolah untuk Kayla. Aku mau Kayla bersekolah ditempat dimana dia dimengerti, dipahami sebagaimana dia adanya. Sekolah yang fokus pada kesehatan mental murid-muridnya. Karena aku tau betapa berharganya, betapa mahalnya bisa tumbuh dewasa dalam lingkungan yang sehat diawal-awal kehidupan kita. Meskipun dunia tidak seindah yang kita pikirkan, aku mau Kayla tumbuh dengan jiwa dan raga yang sehat agar dia siap menghadapi dunia.

Aku tidak selamanya akan disisinya, dia harus tau bahwa aku mencintainya dan akan selalu ada bersamanya. Dia harus tau bahwa dia punya teman-teman dan orang terdekat yang ada untuknya. Dia harus tau bahwa dirinya sendiri adalah teman terbaiknya yang layak dicintai dan bagaimana dia bisa berdiri dan berdaya dengan dirinya sendiri.

Sunday, September 11, 2022

Not Okay - Movie Review

BY Maya Pratiwi IN No comments

 

image source : wikipedia 

Aku agak surpised karena endingnya ga bahagia seperti kebanyakan film. Tapi menarik, film ini menggambarkan tentang seseorang yang berambisi ingin populer sehingga dia merancang kebohongan tentang pengalaman traumatisnya yang pada akhirnya berhasil menarik simpati banyak orang. Ada quote yang menggelitik "Your pain is you biggest asset". Sebuah satire yang mewakili kehidupan saat ini. Kebanyakan orang "menjual" rasa sakitnya untuk menarik simpati banyak orang, lalu populer, dan ambil benefit dari rasa sakitnya itu. Ga semua memang yang seperti itu tapi banyak.

Apalagi saat ini jamannya orang lebih aware dengan mental health, motivational quote, dan kind of these things. Ketika rasa sakit kamu itu bisa kamu kemas dengan apik, bisa ngasih inspirasi buat banyak orang, jadilah rasa sakitmu itu sebagai aset. Tapi ya ga selalu sih, karena seringkali juga saat hidup kita biasa-biasa, sedang kesulitan, dan tidak famous ya teman-teman kita hanyalah gelap malam :(

Sama sih kaya karakter Danni Sander di film ini. Awalnya dia merasa kesepian dan ga punya temen. Once she "accidentally" being popular, most of her friends pay attention to her. Ya pada akhirnya karena mendapatkan kesenangan dan jadi populer, orang akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kepopulerannya. Iya kan??

Sejujurnya aku agak sedih sih endingnya karena Danni Sander ga dapet maaf dari temen baiknya 😝. Ya karena aku sebagai penonton memahami kalo she didn't mean it, sayangnya dalam kehidupan nyata kita yang menjalani tidak bisa sekaligus menjadi penonton yang bisa melihat sebuah kejadian dari berbagai sudut pandang, ya kan? Bisanya jadi komentator yang terus memberikan komentar dari sudut pandangnya aja.

Kalo menurutku, film ini bagus. Meskipun aku yakin sebagian besar orang akan paham konteksnya tapi tetap tidak akan membuat mereka berubah karena having good understanding does not give you a privilege like popularity.

Monday, May 30, 2022

Kerja Rodi Jaman Sekarang

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

 

Story WA saya

Saya kerja emang baru 8 tahun sih, belum senior tapi bukan anak baru juga. Selama 8th kerja saya sering dapet ekskul tapi baru kali ini saya ngerasain kecewa banget sih. Kalian pada tau ga sih kegiatan ekskul dikantor?

Itu loh, dikasih kerjaan yang bukan kerjaan utama. Contohnya biasanya kaya jadi panitia agustusan dikantor gitu. Tapi ragam kegiatan ekskul lebih beragam dan absurd. Jangan mikir penugasan satgas-satgas gitu termasuk ekskul ya. Satgas beda lagi dia karena lebih jelas. Yang ekskul ini meskipun ada penetapan, biasanya saking absurdnya, atasan kita sampe lupa itu gawean yang mana. Atau karena lupa jadi absurd? Tapi kenapa bisa lupa coba kalo emang ga absurd? Nah kan. Biasanya kerjaan ekskul ini hecticnya udah 11-12 lah sama kerjaan asli

Saya kecewa banget sih karena, namanya ekskul itu kan sebenernya ada sebuah unit yang punya tugas lalu mendelegasikan (pake kata delegasi biar keren) tugas tersebut ke orang lain yang beda unit. Ekspektasi saya, kalo elu ngedelegasiin tugas elu ke orang lain ya harusnya elu yang mastiin si orang ini udah dapet ijin dari atasannya dong ya. Kalo ijinnya belum jelas kan riskan juga.

Itu kejadiah tuh sama saya ketika saya udah sukarela ngerjain ekskul, lalu bos saya agak rese ngomongin prioritas, lalu yang punya ekskul angkat tangan (masalah internal ceunah). Kagak usah ngomong siapa yang salah siapa yang bener dah, ribet. Entar yang ini ngomong begini, yang ono ngomong begono. Saya? jelas ga mau dibilang ga bisa mrioritasin kerjaan saya. Udah mah saya kalo meeting kalo ga jam 7 pagi lagi berangkat ke kantor, jam set12 menjelang istirahat maksi, jam 5 sore pas dijalan pulang, atau malah kadang malem. Baru sekali saya kegep lagi meeting ekskul pas dipanggil bos, diungkit-ungkit lah. Sampe saya berani bilang "ini kegiatan ekskul udah 4 bulan. Ada gak bapak liat kerjaan saya ga beres?". Gilaa bangga saya sama diri saya sendiri bisa berani menyuarakan kebenaran 👏

Kagak tau terimakasih emang tu yang punya ekskul ya. Udah nambahin kerjaan saya, bukannya makasih, malah pura-pura bego gitu pas saya dapet masalah. Males saya, disini saya sultannya. Elu kagak mau support yaudah nyooh saya balikin kerjaan, kerjain dewe. Saya ga perlu validasi dari siapapun kalo saya karyawan yang punya integritas dan bermanfaat. Kagak usah divalidasi, saya tau saya berintegritas, inisiatif, tanggung jawab, bermanfaat, karyawan baek-baek. Cari aja sana orang lain yang mau kerja rodi sama elu. Toh saya digaji bukan buat ngerjain ekskul (emosi 😂)

Bos saya ga beda sih, kebangetan juga. Ente ga liat ini ada karyawan punya inisiatif tinggi, berdedikasi ke perusahaan gini? Bukannya di support, disolusikan, dimusyawarahkan baek-baek. Ya kalo ga ngedukung mending ente ngomong langsung ke yang ngasih ekskul, bilang ini staf ane jangan dikasih ekskul. Elu jadi bos kan punya wewenang buat ngomong pak, jangan kaya kroco gitu lah, ga berani bersuara. Kalo mau ngedukung ya jangan belagak ngomongin prioritas. Lagian ini ekskul bukannya urusan pribadi kan, buat perusahaan juga.

Makanya pada hati-hati ya. Anak-anak baru tuh biasanya masih haus akan validasi. Pengen divalidasi dulu kalo emang karyawan teladan makanya nurut bener disuruh-suruh. Ya ga papa sih, bener, ga salah. Kalo lempeng-lempeng aja nanti jadi ga punya banyak pengalaman. Tapi ati-ati dimanfaatin lu. Cepet-cepet jadi manager kalo perlu biar suara didengar.

Kadang ngerjain ekskul tu seru memang. Ada rasa kebosanan yang ga bisa diungkapkan kalo kita kerjanya monoton itu lagi itu lagi. Makanya ngerjain ekskul itu masih diminati, meskipun sukarela. Sama lah kaya kenapa mahasiswa yang tugasnya udah banyak tapi masih mau-maunya ikut kepanitiaan/ormawa/lab/kegiatan lainnya? Karena ada kepuasan tersendiri yang didapatkan, entah apapun bentuknya ya tergantung masing-masing orang. Dan somehow mendapatkan kepuasaan itu membuat bahagia. Jadi emang yang bikin masalah itu bukan kerjaan ekskulnya, tapi bagaimana perilaku dan kebiasaan orang-orang yang membuatnya menjadi tidak sehat.

Dan aku mungkin salah juga karena berekspektasi terlalu tinggi atau tidak terlalu tangguh untuk berjalan melawan badai. Tapi aku belajar bahwa meminta bantuan orang lain itu tidak salah asal kamu tau caranya berterimakasih dan membantu orang lain belum tentu benar ketika kamu tidak bisa mengelola ekspektasi.

Thursday, October 1, 2020

Berusaha

BY Maya Pratiwi No comments


Ini bulan kedua saya merintis usaha makanan. Ada banyak hal yang saya pelajari selama 2 bulan ini.

Oh ya, mungkin suatu hari akan saya ceritakan kenapa saya memulai usaha ini. 

Bukan kali pertama saya berjualan. Dikantor pun saya pernah menjadi Account Manager yang salah satu tugasnya ya berjualan. Meyakinkan orang untuk membeli, menjangkau banyak orang agar tertarik, dsb. Saya juga pernah berjualan baju anak-anak dari merk yang sudah dikenal banyak orang.

Tapi kali ini berbeda. Saya menjual produk saya sendiri. Banyak yang tidak yakin dengan produk saya, saya rasa 😆. Termasuk orang-orang terdekat saya. Atau mungkin saya aja yang baper? 😁 gataulah

Memulai sebuah usaha sampingan bagi saya bukannya tidak bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan pada saya. Saya hanya berusaha, andai kamu mengerti. Tapi saya juga ga memaksa siapapun untuk mengerti dengan apa yang saya yakini.

Ya manusia kan berusaha untuk sesuatu yang mereka yakini. Saya tau rezeki sudah ada yang mengatur. Semua mahluk terlahir sudah dengan rejekinya masing-masing. Tapi bukankah tugas kita berikhtiar menjemput rezeki itu? 

Oh ya tentang jualan saya. 
Mungkin sekarang belum banyak dikenal, belum juga terkenal, mungkin penjualannya masih sedikit, mungkin banyak yang harus saya perbaiki. Tapi saya tidak bisa melupakan masa-masa ketika saya ingin menyerah. Ketika percobaan percobaan membuat cookies hanya berakhir di tong sampah. Yang bahkan saya sendiripun tidak ingin memakannya. Saya hampir menyerah ketika saya merasa tidak mendapat respon baik dari orang-orang terdekat saya. Saya hancur ketika ternyata apa yang saya yakini , hanya saya yakin, tidak ada yang lain. 

Btw, untuk pak suami. Terima kasih tidak cukup untukmu. Kamu sangat berarti!

Tapi ini bukan akhir yang saya inginkan. Saya melihat ada banyak orang yang berjuang lebih keras dari saya. Yang tidak selesai dengan satu atau dua kali percobaan. Yang begitu yakin dengan apa yang diyakininya. Yang lelahnya bisa jadi belum terbayar tapi usahanya tidak pernah surut.

Kadang dalam diam, saya merasakan begitu kuat keyakinan keyakinan saya sendiri. Mimpi mimpi saya, keinginan saya.

Jika memang Tuhan punya rencana lain. Jelas itu bukan jangkauan saya. Itu tugas Nya. Tugas saya berusaha, tidak menghakimi hasil, tidak pula menerka nerka apa yang terjadi. Saya hanya ingin yakin bahwa saya sudah berusaha, saya sudah berikhtiar. Saya tidak ingin doa doa saya hampa tanpa arti. Biarkan Allah yang memutuskan muaranya, jangan saya, jangan juga kamu.

Saya ingin menjadi lebih berarti bagi orang-orang yang sedang berusaha. Seperti saya berharap ada banyak doa dan semangat yang orang berikan untuk saya. Saya tidak akan menghakimi siapapun dengan usahanya. Saya bukan tuhan, saya tidak tau apa yang akan terjadi. Saya doakan yang terbaik untuk mereka. Jika mereka yakin dengan yang mereka yakini, saya akan yakin untuk ada dibelakang mereka :) Insyallah

Semangat bagi yang sedang berjuang. Semoga Allah memberkahi jalan kita. Aamiin


Thursday, July 16, 2020

Kerja : Staf Kalo Kebanyakan Bos

BY Maya Pratiwi IN No comments


Staf kalo kebanyakan bos itu kaya orang punya pacar sekaligus selingkuhan.
Sotoy hahaha 😝

Ngumpet-ngumpet kalo kerja
Suka ngumpet-ngumpet kalo kerja ga? Saya iya kadang-kadang kalo mendesak.
Pura-pura fokus meeting sama bos asli tapi padahal secara sembunyi-sembunyi juga chattingan sama bos yang satunya, lapor kerjaan, diskusi atau ya cuma say hi aja 😂. Atau gak ijin mau kemana dulu padahal mau ikut meeting sama bos yang satunya.

Kenapa harus ngumpet-ngumpet??
Ya karena saya ngerti bos asli saya ga suka kalo saya fokus sama kerjaan lain. Secara emang saya digaji tuh untuk jadi staf dia kan. Jadi kalo saya malah sibuk ngerjain kerjaan dari orang lain pasti dia ga suka lah. PADAHAL masih di satu perusahaan yang sama lho. Bukannya saya dobel job di perusahaan lain tuh enggak.

((Bukan beneran ngumpet-ngumpet sih. Cuma kadang lagi ngerjain tugas dari bos yang itu tiba-tiba kaget karena ditanyain tugas dari bos asli trus habis itu bilang "oh iya ini pak/bu dikit lagi". Padahal lagi ngerjain yg lain kan))

Bos sebenernya ga suka kalo kita ngerjain tugas lain diluar kerjaan yang dia kasih !!
Itu terlihat jelas ketika seharian tuh bisa nanyain kerjaan berkali-kali. Perasaan ngasih kerjaannya barusan, kenapa udah ditanya sih. Atau kayak berkali kali ngingetin betapa penting dan mendesaknya pekerjaan ini.
"May, prioritas ini dulu ya soalnya buat meeting besok"
"Gimana May udah beres? Segera dikirim ya mau saya review dulu"
Dan itu ngomongnya mukanya datar gitu. Atau gak chat cuma di read doang. Disebut apa lagi kalo gak lagi bete? 

Juga sebenernya kenapa saya ngumpet-ngumpet itu karena males kalo jadi panjang gitu sih. Kalo misalnya jawab jujur, kadang tuh responnya ga seperti yang saya inginkan. Bukannya dikasihani lalu dibantuin apa gimana kadang malah kaya dijutekin trus kaya malah diburu-burin gitu kan atau malah diceramahin. Kadang sih ada juga bos saya yang diem aja ga komen, tapi sikap dia jadi dingin, males aja saya liatnya. Jadi bikin saya ngerasa bersalah juga kan, jadi bikin ga enak. Nah kalo udah kaya gini males kan memperpanjang komunikasi. Jadi yaa buru-buru ganti tab aja biar ga ketauan lagi ngerjain apa 😉

Iya iya tau emang harusnya jujur aja. Tapi ya gitulah liat sikon, kalo ga mendesak ya ga jujur. Kalo mendesak ya jujur

Eh bentar. Kalian ngerti ga sih maksud cerita saya ini?
Ini bukan cerita "office romance" ya. 
Jadi gini. Saya punya bos dan bos saya punya bos. Bosnya bos saya nyuruh saya juga bantuin di tim lain, tim beda bos gitu. Jadi seakan-akan saya kerja di dua bos. Dan biasanya para bos ini awalnya setuju setuju aja sama idenya bosnya tapi ujung-ujungnya juga r*se.

Suka banyak drama
Kalo mau ketemu sama Bos selingkuhan itu kayak ditahan-tahan gitu sama bos asli. Atau kaya sengaja ngadain meeting padahal udah tau harus ketemu sama bos satunya. HAHAHAHA geli banget. Tapi ini trueeee saya pernah ngalamin. Asli padahal itu bisa ditunda, bisa digantiin, tapi ya tetep aja ngadain tepat pas saya ada event kerjaan di bos yang satunya 😓😅

Tapi ya emang ga enak sih kalo punya staf yang selingkuh gitu. Soalnya saya pernah ngerasain ketika tim saya ada kerjaan sama orang lain. Saya bilang "tim" karena saya bukan bosnya. Jadi suatu saat saya punya tim dan salah seorang di tim saya dikasih kerjaan untuk ngebantuin tim lainnya. Saya ngerasain anak ini jadi ga fokus nih sama kerjaannya. Kadang jadi slow respon gitu. Malah saya yang jadi segan mau nanya progres ke dia 😕. Haaaah! Padahal kerjaan lagi banyak. Disini juga perlu bantuan tapi dia malah bantuin tim lain juga. Bete sih emang. Betenya macem-macem sih. Pengen kesel sama si anak tapi ya bukan salah dia juga. Kan yang mau punya kerjaan lain bukan dia, emang disuruh sama atasannya kan.

Jadi ya ga nyalahin bos yang bete lah kalo stafnya ngerjain tugas lain. CUMA ya mohon kita selesaikan bersama gitu lhoo enaknya gimana biar hidup saya agak santai

Kehilangan Logika
Sebagai staf tidak berdaya, harusnya merekalah yang menyelesaikan ditingkat para bos. Apalah saya bisanya cuma disuruh. Apakek pada saling bicara atau gimana gitu. Ya logikanya kan saya cuma staf, ngikutin apa perintah atasan lah. Atasan bilang kerjain nih kerjaan ini sama kerjaan itu maka saya kerjakan. Kalau anda tidak suka saya mengerjakan banyak pekerjaan ya tidak usah ngasih kerjaan tambahan. Atau gak sampein lah keberatan anda ke atasan. Minta atasan anda untuk jangan nambah kerjaan ke saya Sesimpel itu di pikiran saya yang cetek tapi mungkin beda lagi kalo di pikirannya bos. Gatau sih belum pernah jadi bos beneran jadi belum paham lika likunya.

Udah gitu kadang kaya malah sengaja di peras. Suka sengaja dikasih banyak kerjaan biar fokus di kerjaan utama aja jadi ga ngerjain kerjaan di bos yang satunya. Padahal ya siapa juga yang mau punya banyak bos yak!

Kalian sendiri yang ngasih kerjaan macem-macem ke saya, kalian juga yang saling memperebutkan saya. Emang saya apaan? Nanti kalo kerjaan di yang satunya itu ga achieved saya juga yang kena. Kan lawak namanya.
"Ya kamu harus bisa menentukan prioritas dong May"
"Belajar management waktu. Kalo bisa manage waktu harusnya sih bisa dikerjain semua"
"Berarti harus mau nambah jam kerja, itu konsekuensi" (arahnya kesini sebenernya)

SIAP PAK SAYA SALAH!! 

Jadi gimana doooong??
Yaaa udah gimana lagi. Terima ajalah
Kalo ada yang bisa kamu lakukan untuk menghentikan perdramaan ini ya lakukan. Kalo tidak bisa ya gimana lagi.

Kalo mengutip kata-kata pak Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia, pas beliau lagi ngisi leadership training dikantor :
"Ada kalanya kamu emang harus tegas bilang sama manager kamu. Pak saya ga bisa terus menerus memprioritaskan bapak. Saya juga punya prioritas di tempat lain yang juga tugas perusahaan yang harus saya selesaikan"
Ces Ces Ces !! To the point !! Menghujam jantungku !! Gaya pak Handry sekali.
Cobain lah praktekin ngomong gitu ke bos kamu 😁

Sisi Baiknya
Kalo mau dicari ada ada aja sih sisi baiknya punya banyak bos. Artinya kamu emang dipandang mampu untuk melakukannya. Mungkin emang kapabilitas kamu diatas rata-rata jadinya kamu yang dikasih tugas spesial kan. Ya kecuali CUMA KAMU YANG MAU, bisa jadi sih karena yang lain pada nolak jadi tersisa kamu yang dipaksa. HAHAHAHAHA LOL 😈😁 ((tertawa sinis))

Tapi ya sebenernya secara pribadi saya merasa skill saya naik sih emang. Saya merasa produktif banget gitu dikantor. Bener-bener emang dateng ke kantor tu ya buat kerja gitu, ga buat ngobrol atau numpang internetan doang. Juga saya merasa lebih gesit dalam mengerjakan tugas. Ya karena kepepet sih jadi suka bikin pinter tiba-tiba. Plusnya lagi biasanya sih ada aja benefitnya, kaya misal mungkin dapet pelatihan gratis dari tim yang satunya. Atau bisa ikut event-event yang ga semua orang bisa ikutan. Dapet pengalaman baru yang ga semua karyawan dapet, bisa jadi kenal banyak orang, juga bisa lebih banyak belajar. Atau kadang dapet makan gratis, suka dapet fee kalo diajakinnya jualan ((hahaha)).

Banyak kok sebenernya manfaatnya, saya akui. Cuma saya ga suka kalo banyak drama para bos gitu.
Kalo asiknya sih ya tergantung kerjaannya lah. Kalo seru ya asik, kalo ga seru ya ga asik 😜.

Etapi kalo tentang karir sih gatau lah ya. Saya belum merasakan dampaknya ke karir. Saya pernah show off, caper sana sini biar keliatan biar di pindah ke Bandung ternyata juga ga mempan dulu. Hahaha 💩. Selain karena itu rejeki-rejekian, juga karena itu tergantung sama atasan kita ga sih. Kalo kebetulan dia tipe orang yang "sayang nih berlian kaya gini disini terus" mungkin dia akan promote kita. Tapi kalo tipenya "sayang nih berlian gini disuruh pergi" ya berarti selesai aja kamu disitu terus. MUNGKIN 

Gituu deh. 

Tapi tulisan ini ga bermaksud apa-apa ya. Saya cuma sharing aja. Siapa tau nanti anak saya pernah mengalami hal serupa atau diluar sana ada yang mengalami hal serupa ya berarti kita pernah di posisi yang sama. Atau mungkin nanti ada rejeki saya bisa jadi bos, saya bisa baca lagi tulisan ini biar jadi lebih bijaksana. Gausah baper

Cheers,
Maya

Sunday, December 22, 2019

Selamat Hari Ibu, Mimi

BY Maya Pratiwi IN No comments

Selamat Hari Ibuuu...

Melewati hari ibu sebagai seorang ibu ternyata ga se spesial yang saya bayangkan dulu. Saya pikir rasanya akan sangat happy karena semua orang memberikan selamat hari ibu bagi para ibu.

Apakah menjadi ibu sangat spesial?
Ya tentu saja.
Sangat spesial tapi rasanya agak babak belur di awalnya.
Karena ya ternyata punya anak itu tidak cuma memberikan sandang, pangan, papan aja tapi memenuhi kebutuhan seluruh aspek kehidupan anak sampai ke masa depannya kelak.

Oh ya, Kayla sudah hampir bisa gowes sepeda sendiri. Kosa katanya sudah sangat banyak dan sudah bisa role play macem-macem. Udah lepas pospak, udah bisa ditinggal kerja keluar kota, udah bisa banyak banget. Saya udah nambah bisa apa dong ya?

Huhuhu kalo mengingat kehidupan per-ibu-an saya, rasanya pengen nangis aja. Selalu merasa belum bisa ngasih yang terbaik buat Kayla. Tapi tidak ada waktu yang bisa diulang. Kayla bahkan tumbuh dan belajar lebih cepat dari saya.

....

Di Hari ibu ini saya justru ingin mengucapkan banyak terimakasih untuk anak saya, Kayla. Dia sudah berkorban banyak untuk saya. Dialah yang membuat saya merasa benar-benar menjadi Ibu. Kayla lah yang membuat saya merasa peran saya sebagai ibu sangat berarti.

Anak sayalah yang membuat hari-hari saya semakin berwarna, membuat rumah saya semakin semarak, dan tiap langkah saya semakin berarti. Saya berjanji akan selalu menjadi rumah baginya apapun yang telah dia lalui diluar sana.

....

Kasih ibu sepanjang masa?
Seharusnya begitu

Karena Ibu (dan tentu saja bapaknya) lah yang berdoa tiap hari untuk dikaruniai anak. Saya pikir memang seharusnya kasih Ibu sepanjang masa. Kan Ibu yang pengen punya anak.

....

Kayla mungkin suatu hari kita akan berselisih meskipun saya harap tidak akan pernah. Dan saya menulis tulisan ini untuk mengingatkan diri saya sendiri untuk tidak pernah menyebut nyebut apa yang pernah saya lakukan untuk Kayla dan anak-anak saya kelak.

Seperti misalnya saat saya hamil dan melahirkan. Oh ya tentu saja kalo ibu yang hamil dan melahirkan merasakan kepayahan itu ya karena memang mereka sedang hamil dan melahirkan, bukan sedang liburan. Itu hal yang wajar. Itu proses yang harus dijalani, jadi kenapa saya merasa perlu untuk menyebutnya sebuah pengorbanan untuk anak saya? Toh saya juga yang ingin punya anak.

Saya bekerja, merawat anak-anak, memenuhi kebetuhan mereka pun adalah tanggung jawab saya (dan suami saya) sebagai orang tua. Itu memang yang harus kami lakukan sebagai tanggung jawab karena dititipi anak sama Allah. Bukan juga hal yang pantas untuk disebut-sebut sebagai sebuah pengorbanan

....

Pengorbanan sesungguhnya tau apa?
Kayla mengorbankan waktu bermainnya bersama saya agar saya bisa bekerja. Kayla menahan diri dari banyak hal yang dia mau agar saya bisa masak dulu, bersih-bersih rumah dulu, nyuci piring dulu, mandi dulu, ngerjain deadline tugas dulu, nulis blog dulu, dan berbagai macam hal lainnya yang memenuhi idealisme saya sendiri. Hanya demi agar saya tetap waras.

....

Saya menjadi ibu karena saya yang mau. Betapapun saya merasa harus jungkir balik menjadi ibu yang baik, ya itu karena saya yang mau menjadi ibu.

Semoga saya dan suami saya bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak. Entah bagaimana caranya. Karena pasti lebih mudah untuk mencintai orang yang sangat baik ketimbang mencintai orang baik.

Saya ingin selalu ada untuk Kayla, sesulit apapun hari-hari yang sedang dia lalui.
Saya ingin menjadi ibu yang baik, sebesar keingainan saya agar Kayla juga berusaha menjadi anak yang baik

....

Selamat hari ibu, mimi

Tuesday, September 24, 2019

Makna Bekerja

BY Maya Pratiwi IN , , 1 comment


Pagi ini saya bangun lebih pagi dari biasanya. Bukan karena saya yang mau tapi karena saya tidak bisa tidur.

Jam 02.00 
Harusnya jam 03.00 saya berangkat bersama rombongan kantor menuju ke Jakarta. Tapi saya urung berangkat sepagi itu. Saya memilih berangkat menggunakan kereta api, supaya tidak berangkat terlalu pagi. Meskipun saya tau saya akan sampai lebih lambat dari rombongan.


Sayangnya pikiran saya bergejolak. Saya tidak bisa tidur. Saya benci kalo terus menerus kepikiran hal-hal tidak penting yang mengganggu tidur saya.

Acara ke Jakarta hari ini sungguh ga masuk akal buat saya. Menurut akal saya aja kali ya, akalnya rakyat jelata yang mau enaknya aja. Agendanya mungkin emang sepenting itu kali ya. Tapi lucunya, pesertanya ya orang-orang itu juga, orang-orang yang kami bisa ketemu dibandung aja sebenernya. Jadi ke Jakarta bukan karena harus menghadiri undangan atau bertemu dengan orang-orang yang cuma bisa ditemui dijakarta atau orang penting yang ga punya banyak waktu jadi kami harus ngalah dateng ke Jakarta. Jadi kayak cuma pindah tempat aja dari yang bisa dibandung tapi pindah ke jakarta. Wagu ga sih?

Saya yang kurang gaul atau yang bikin acara yang terlalu kreatif? Kenapa otak saya ga nyampe sih untuk mencari esensi dari kegiatan tersebut?

Tapi toh saya ga berdaya juga untuk menolak. Saya tetep dateng juga tuh. Ninggalin anak dan suami saya sepagi itu. Saya pengen mengkasihani suami saya yang harus ngurusin anak kecil pagi-pagi. Atau mengkasihani diri saya sendiri. Tapi orang lain mungkin juga butuh dikasihani kan, jadi saya ga mau egois mikirin diri saya sendiri.

Itulah bekerja.
Kadang kita bisa saja kehilangan makna dari bekerja. Merutuki pekerjaan atau menganggap orang-orang sudah mulai gila dengan keputusan-keputusannya yang tidak masuk akal. Yang rasanya seperti cuma nambahin kerjaan tapi tidak menyelesaikan masalah. Tapi saya tidak ingin jadi orang yang tidak pandai bersyukur. Mungkin emang saya digaji salah satunya untuk seperti ini. Mungkin lebih baik saya yang datang ketimbang orang lain yang punya seabreg pekerjaan. Udahlah dia kerjaanya banyak ditambah harus menghadiri acara yang tidak akan menyelesaikan pekerjaannya. Lebih kasihan.


Itu sepenggal kisah di pekerjaan saya. Kisah-kisah bermuatan racun. Belum termasuk ketika saya merasa "enak banget dia kerjaannya kayak gitu 'doang', kita yang disini kerja sampe ngempet". Belum juga ketika saya merasa orang lain tidak adil pada saya. Atau ketika saya merasa tidak dianggap, tidak dihargai, padahal sudah berusaha maksimal. Atau ketika saya merasa orang orang tidak mengerti saya. Dan segala macam racun racun lainnya.

Tapi hey. Emang saya siapa?

Dalam perjalanan saya pagi ini dari rumah ke stasiun menggunakan taksi, saya melihat ada seorang bapak di dalam sebuah taksi lain yang terparkir dipinggir jalan, dia melihat taksi saya melaju dengan tatapan yang sangat lelah. Mungkin dia pikir "waow ada sebuah taksi yang membawa penumpang sepagi ini, kenapa bukan taksi saya yang dapet penumpang?"

Kemudian ada beberapa tukang ojek berbalut jaket tebal yang sedang duduk di pangkalan. Pikir saya "emang ada ya yang bakal naik ojek sepagi ini? Ini kan komplek perumahan, tidak seramai pasar"

Se"gambling" itu ga sih pekerjaan orang lain? Banyak variabel tidak terkontrol yang setiap hari mereka hadapi. Yang belum tentu dapet penumpang, belum tentu yang beli banyak. Yang belum tentu dapet angkot. Yang belum tentu targetnya kecapai. Kehidupan dimana satu-satunya hal yang pasti dalam hidup mereka adalah ketidakpastian.

Sedangkan saya ketika merasa sangat lelah dalam bekerja, ketika saya menginginkan jeda dalam bekerja, toh saya masih tetap dapet gaji. Bahkan mungkin saya harus benar-benar menjadi karyawan yang sangat buruk sekali dulu sebelum akhirnya dipecat dan kehilangan pekerjaan lalu tidak dapat gaji. Sedangkan mereka yang saya ceritakan diatas dan mereka-mereka lainnya diluar sana, sekali saja merasa lelah dan berniat mengambil jeda dalam bekerja, mereka ga akan dapet penumpang atau pembeli dan bisa jadi pulang kerumah dengan tangan hampa.

Sampai disini saya merasa ditampar. Dan lalu saya meniatkan diri saya untuk pergi ke Jakarta dengan ikhlas (Tapi kenapa seharian ini saya sakit perut ya?)

Meskipun pekerjaan adalah sebuah pilihan. Saya tidak ingin menghakimi orang lain karena memilih pekerjaan mereka saat ini. Semua orang kan punya peran hidup yang berbeda-beda. Untung ada taksi yang masih ngetem sampe subuh, jadi ada yang nganterin saya. Untung ada ojek, jadi saya bisa nyampe kantor lebih cepet. Untung ada pegawai kebersihan, jadi kantor dan jalanan menjadi sangat bersih tanpa saya perlu ikut kerja bakti tiap hari jumat.  Untung ada porter jadi saya ga keberatan ngangkat koper. Dan semua pekerjaan yang tercipta untuk memudahkan orang lain.

Hhmmmmm
Saya tidak tau, mungkin acara hari ini memang diperuntukan agar saya lebih memahami makna kehidupan. Bahwa nalar manusia tidak sama, bener menurut saya belum tentu bener menurut orang lain. Bahwa cara pandang seseorang terhadap sesuatu juga bisa jadi berbeda dan kadang kita ga bisa maksain orang lain berpikir sama seperti kita. kehidupan tidak melulu semulus yang kita inginkan. Bahwa ada banyak sekali hikmah dan pelajaran hidup bagi siapapun yang mau memaknainya.


Paling gak, saya berusaha segera kembali normal ketika racun racun penebar kebencian dalam bekerja mulai menyerang saya. Mungkin saya sama dengan lainnya, punya potensi ketidakberkahan dalam bekerja karena selalu mengeluh, tapi saya yakin saya berusaha selalu mengambil hikmah dalam setiap hal.

Tapi ngerti gak maksudnya ngambil hikmah itu apa?
Saya ga ngerti ngerti amat sih. Tapi "bisa ngambil hikmah" itu seperti saat kalian lagi ngeluh dan sebel tingkat maksimal lalu tiba-tiba bisa jadi sangat ikhlas dalam menjalankannya. Bisa jadi sangat ikhlas. Itu maksudnya ngambil hikmah, biar bisa ikhlas.


Karena kembali ke basic. Kalo kamu ngeluh terus dengan kerjaan, kenapa ga keluar aja? Entah nyerahin kerjaan itu ke ahlinya atau yaudah resign aja gitu? Dari pada kamu ngeluh lalu pundi pundi uang yang kamu pakai itu menjadi tidak berkah. Karena siapa tau bukan kerjaanmu yang salah, tapi kamu yang salah menyikapi.

Bekerja itu lelah. Sangat lelah. Lelah dengan pekerjaan, lelah mengahadapi dinamika pekerjaan, lelah juga berhadapan dengan orang-orang. Tapi pilihan kamu untuk terus tenggelam dalam kelelahan itu atau belajar ikhlas dan menumpuk keberkahan untuk keluarga.

Belajar Ikhlas yuk biar berkah :)

Saturday, September 7, 2019

Apakah Masa Kecilmu Menyenangkan ?

BY Maya Pratiwi IN No comments

Kayla, apakah masa kecilmu menyenangkan?

Suatu hari ketika Kayla sudah mengerti tentang mengungkapkan perasaan, saya akan bertanya tentang pertanyaan tersebut.

Saya percaya bahwa apa yang terjadi di masa kecil seseorang akan berpengaruh pada apa yang akan dia bawa hingga dewasa. Saya berharap Kayla mengenang masa kecilnya sebagai masa-masa yang bahagia. Bukan bahagia karena dia belum punya beban atau tanggung jawab yang besar. Tapi bahagia yang benar-benar bahagia. Bahagia yang sampai membuat dia bersemangat untuk menyalurkan kebahagiaan tersebut pada orang lain.

Saya berharap bisa membawa kebahagian di kehidupan Kayla. Meskipun yaa entah bagaimana caranya 😁. Saya tidak tau apakah membelikannya es krim setiap hari sabtu akan membuat dia bahagia. Saya tidak tau apakah bermain dikasur bersama-sama akan berkesan baginya. Saya tidak tau apakah membuat lingkaran dan berputar-putar akan bisa membuat kebahagian baginya. Saya bahkan tidak tau apakah Kayla akan ingat kejadian itu semua 😂.

Kayla, kalo mimi pernah berbuat kasar sama Kayla. Atau pernah marah sama Kayla. Mimi harap Kayla masih akan tetap sayang sama mimi. Mimi ga mau Kayla lupa sama mimi saat Kayla punya banyak teman nantinya :(

Tapi padahal, cerita masa kecil yang menyenangkan itu kan biasanya cerita pas lagi sama temen-temen sepermainan ga sih? 😅. Soalnya kebanyakan pas kecil itu dimarahi ibu gara-gara keseringan main wkwkwkwkk.

Tapi Kayla punya cerita berkesan yang ada mimi sama abi nya kan?