Saturday, February 7, 2026

Review Buku : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

BY Maya Pratiwi IN , No comments

 


Beberapa orang bertahan hidup karena harus menghidupi yang lainnya. Beberapa bertahan hidup karena merasa diberi kesempatan kedua. Yang lain bertahan hidup karena masih mengharapkan sesuatu. Kalau kamu karena apa?

Haus juga ya baca buku ini. Karena sepanjang cerita banyak cuplikan minum kopi dan menyesap rokok 😂. Saking aku menghayati ceritanya jadi rasanya butuh air mineral untuk mengguyur tenggorokanku yang pahit kebanyakan kopi saset.

Well, aku suka banget dengan gaya penulisan Brian Khrisna. Ringan dan banyak mengumpat. Ini yang membuat buku ini terasa hidup. Menceritakan tentang pencarian makna hidup dengan seringan ini rasanya sepadan kalau buku ini menyematkan logo Mega Best Seller di cover bukunya.

Buat kamu yang lagi mencari makna hidup, yang sedang kehilangan arah, yang hidupnya terasa sepi, hampa, tak bertujuan, atau bahkan mungkin ingin mengakhiri semuanya, mungkin kamu harus baca buku ini dulu. Dia gak akan ngasih kamu tips cara bertahan hidup atau nasehat untuk menemukan kembali makna hidupmu. Ia hanya akan mengisahkan cerita hidup Ale, pemuda 37 tahun yang ingin bunuh diri karena merasa hidupnya sepi dan tidak berarti. Sisanya harus kamu baca sendiri.

Banyak banget kutipan dan adegan-adegan unik yang menghidupkan, sayangnya ini buku pinjaman jadi gak bisa aku warnai menggunakan stabilo. Seperti misalnya penjual kerupuk bangka buta yang bisa bahasa inggris. Agak kaget tapi juga merasa, kenapa kaget? Emang gak boleh? Seperti yang aku tulis di kalimat pertama paragraf ini, banyak adegan unik. Adegan yang sepotong-potong tapi pesannya tetap tersampaikan. Ini membuat novelnya terasa hidup karena sebagai pembaca, aku tidak dipaksa untuk tau semua hal dibalik ceritanya. Mengutip kata-kata Brian Khrisna di buku ini, "serba taksa dan penuh enigma."

Apalagi yang aku suka? Ceritanya tidak berakhir seindah karya fiksi lainnya. Di akhir cerita, Ale juga tetap tidak dipedulikan oleh teman-teman dan keluarganya. Tubuh yang  ia pikir selalu membawa masalah juga tidak berubah menjadi lebih baik. Sama lah dengan hidup kita semuanya. Tidak ada masalah yang benar-benar hilang. Ia tetap ada di sana, mengawasi kita seperti semestinya ia berada. Hanya saja cara pandang kita berubah sehingga masalah tak lagi terasa menyakitkan.

Ayo cepet baca. 

Ini beberapa kutipan yang semoga menginspirasimu untuk membaca buku ini :
💗Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, dihadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa. (Hal 102)
💗 Apa burung pipit itu makhluk yang jahat karena memberi makan anaknya dari hasil mengambil pada yang ditanam petani? (Hal 106)
💗 Kalaupun itu gak lebih baik, setidaknya saya yakin itu bisa membuat saya lebih bahagia. Yang terbaik itu gak selalu jadi yang paling membuat bahagia. (Hal 129)
💗Hidup tuh seperti layangan. Semakin kita tarik, dia malah semakin tinggi. Namun semakin dilepas, dia malah akan jatuh. (Hal 165)
💗Tidak ada kata-kata yang tepat untuk melarang orang bunuh diri. Memintanya tetap hidup akan terdengar egois. Mendorongnya untuk mati pun tidak elok. (Hal 190)
💗Hidup mau sebahagia apa juga pasti mati, hidup susah pun bakal mati juga. Jadi saran saya, sebagai orang yang hidupnya selalu dalam kegelapan, ya hidup saja. (Hal 191)
💗Yang paling penting bukanlah selalu tentang apa yang kita lihat, melainkan bagaimana cara kita merasakan hidup. (Hal 192)
💗Bertahan dan tetap hidup adalah pencapaian besar untuk orang-orang seperti kita. (Hal 194)
💗Hidup itu seperti pertandingan tinju. Kekalahan tidak ditentukan ketika kamu jatuh, tetapi ketika kamu memutuskan untuk tidak bangkit lagi. (Hal 195)


Sunday, January 25, 2026

Review Buku : Resign - Almira Bastari

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

Judul : Resign
Penulis : Almira Bastari
Penerbit : Gramedia
288 halaman

Nemu buku ini di Gramedia pas lagi suntuk-suntuknya sama kantor. Masa gak beli.

Sebetulnya sepertiga pertama buku ini aku agak lambat ya bacanya. Karena cerita romansanya dominan banget, gak seperti ekspektasiku.

Tapi aku yakin sih buku ini pasti punya kejutan, gak mungkin sampe akhir bakal cerita romansa doang ya. Kan saya perlu pelampiasan emosi perihal kantor yang tidak bisa saya salurkan. Hhmmm

Akhirnya tetap kubaca dan bener sih. Bab-bab selanjutnya baru aku dapet banget emosi yang aku cari. Temen-temen kantor yang somplak, bos yang gak kalah semprul, aroma gosip yang menguar dari balik kubikel, juga romansa terlarang yang benci bacanya 😢.

Aku suka banget sama tokoh-tokohnya. Entah bagaimana aku juga jadi belajar sesuatu dari cara mereka menyikapi drama kantor. Juga karena mereka solid banget kalau urusan kantor. Karena memang, kadang yang bikin bertahan itu bukan kantornya atau bosnya ya, tapi temen-temennya. Atau gak juga ya?

Gak sih :). Aku juga bertahan bertahun-tahun karena BU dan gak punya nyali aja. Sad :(

Menurutku baca sih. Mungkin bisa menginspirasimu untuk tetap bertahan di kantor atau ya mungkin sebaliknya. 

Banyak banget quote-quote menarik di buku ini. Ini beberapa yang aku suka
💗 Tapi penekanan dan pengulangan pertanyaan Tigran (bos) memliki dua arti : kami memang salah dan Tigran (bos) tahu itu, atau Tigran (bos) yakin kami salah. (hal 51)
💗 "Kenapa sih dia (bos) harus ngetes kita terus? Kita kan satu institusi! Kalau dia tahu, ngomong dong! Capek gue kayak gini." (hal 51)
💗 Anak baru boleh ramah, asal jangan cari muka. (hal 55)
💗 Tempat untuk anak baru itu ditentukan dari seseru apa rahasia yang dia bawa. (hal 75)
💗 Apa yang sudah kamu kerjakan sampai kamu merasa pantas mengajukan cuti? (hal 82)

Sunday, January 4, 2026

Review Buku : Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

BY Maya Pratiwi IN No comments





Di Cover bukunya ada tulisan Mega Best Seller, sudah seharusnya kalau isinya bagus kan ya?

Tapi apa yang membuatnya bagus?

Jujur, ketika aku melihat buku ini di salah satu toko buku, yang membuatku tertarik bukan karena ia berada di deretan buku best seller tapi justru karena judulnya.


Kenapa pohon semangka? Apa yang menarik dari pohon semangka? Aku gak yakin semangka itu pohon, bukannya dia merambat? Kenapa tidak menjadi bunga matahari saja yang lebih populer? Bahkan di cover bukunya bisa kamu lihat sudah ada bunga matahari juga kan?

Dan yang menarik lainnya adalah karena penulisnya seorang Psikiater. Aku mencoba menebak kalau buku ini pasti ada hubungannya dengan mental health, self development, atau mungkin karena penulisnya psikiater mungkin isinya akan tentang bagian-bagian otak dan cara kerjanya, hormon manusia atau cara menghubungkan neuron otak?

Hehe sotoy.

Ya karena dari beberapa buku tentang mental health atau self development yang pernah kubaca, semuanya menceritakan tentang tips dan trik cara kita melakukan sesuatu atau menghadapi sesuatu, atau menceriatakan alasan saintifik dibalik kerja otak dan yaa pengetahuan-pengetahuan sejenis itu. Paham kan maksudku? Tapi buku ini sepertinya berbeda karena judulnya ada kata-kata "Seorang Wanita", seakan isinya menceritakan kisah seorang wanita. Iya gak sih?

Hhhmmmm kalau judulnya seperti itu sepertinya akan seperti novel yang menceritakan kisah seseorang ya? Tapi gimana ya cara penulis menyisipkan konten mental healthnya, self help atau self developmentnya atau apapun itu yang mencerminkan pekerjaan psikiater?

Loh kok makin sotoy.
Padahal dokter Tompi juga bikin lagu bukan tentang operasi plastik atau kisah melawan acne prone 😂.

Yaa begitulah.
Intinya sih dari kesemua hal itulah aku jadi penasaran sama buku ini.

Dan ternyata benar dong, ini kisah hidup seseorang! Tapi ada pesan-pesan mental healthnya gituu. Fix Menarik!

*spoiler alert*
Apakah seperti novel?
Ya mirip tapi kisah hidup wanita yang ingin jadi pohon semangka itu sebetulnya untuk membantu memberi konteks saja. Konten sesungguhnya memang fokus pada pesan-pesan berkaitan dengan mental health atau self help yang ingin disampaikan sama penulisnya, bukan fokus pada cerita hidup wanitanya. Jadi jangan kamu bayangkan buku ini sebagai novel yang akan full menceritakan kisah pemeran utama.

Apa isinya?
Secara umum menceritakan sesi konseling seorang wanita dengan dr Andreas. Karenanya, aku jadi paham konteksnya lagi ngomongin apa sih ini. Dan dari awal hingga akhir buku masih menceritakan kisah satu orang saja. Aku jadi dapet full story. 

Eh ada sih penggalan-penggalan kisah lainnya cuma ya balik lagi, kisah-kisah itu cuma ngebantu ngasih konteks saja biar pesan-pesan yang disampaikan lebih mudah dicerna sama kaum-kaum kaya aku ini.

Jadi cerita awalnya ada seorang wanita yang dateng ke psikiater karena kecewa sama hidupnya. Lalu diceritakan juga cuplikan diskusi dan obrolan di ruang konseling yang disertai insight-insight dari dokter Andreas yang gak cuma membuka mata wanita itu tapi aku yakin membuka mata seluruh pembacanya. Hingga  akhirnya diceritakan bahwa si wanita ini bisa ngerasa hidupnya meaningful lagi. Semua rangkaian peristiwa itu diceritakan dengan runut, ringan dan menurut aku insightful banget.

Duh emang obrolan di ruang konseling dengan orang yang tepat itu seru banget deh!!💓

Kutipan menarik?
Ini beberapa kutipan yang semoga bisa membantu meyakinkanmu untuk baca buku ini juga. Aku coba kategorikan sendiri sesuai bagian yang aku rasa aku temukan di buku ini :

❤ Kecewa : Kalau hari-harimu terasa berat, memang "kita butuh orang jahat untuk disalahkan dalam hidup kita" (hal 38). Jangan cuma selesai disini, baca lagi kelanjutannya di buku dan aku yakin bisa mengubah caramu melihat masalahmu yang berat itu.
❤ Mencari bahagia : definisi bahagia dalam 3 kata, "Tiap orang berbeda" (hal 51), "Menemukan rasa takjub" (hal 61), "Menikmati jalannya waktu" (hal 66). Definisi mana yang menurut kamu pas banget?
❤ Menyesali hidup : "Maka berhentilah untuk melihat suatu pilihan sebagai baik atau buruk. Cobalah untuk melihatnya sebagai pilihan yang disadari atau tidak disadari" (hal 133). Part ini sungguh menampar.
❤ Bertahan : "Tidak apa, bila yang bisa kamu lakukan hanya bertahan. Seseorang sering disalahkan ketika seolah tidak melakukan apa-apa. Padahal, di dalam dirinya, dia melawan arus yang begitu kuat." (hal 165)
❤ Menerima : "Dalam filosofi Jepang, wabi-sabi mengajak kita untuk menemukan keindahan dalam ketidaksempurnaan." (hal 185)  Apa itu wabi-sabi? Baca sendiri deh di bukunya 😉. Tapi quote yang aku suka karena relate banget sama aku, "Kamu boleh jadi perfeksionis" (hal 186). Hahahaha, ini sih memvalidasi hobi dan beban hidupku sendiri. Cuma banyak syaratnya kalo kata dokter Andreas 😔.

Sudah, jangan terlalu banyak spoilernya. Aku janji kamu gak akan nyesel baca buku ini. Tapi jangan pinjem punyaku karena aku pelit.

Sunday, September 14, 2025

Perempuan yang Pindah Kerja di Usia 30an Tahun

BY Maya Pratiwi IN , , , , , No comments

Sepertinya pindah kerja di usia berapapun sudah menjadi hal yang lumrah belakangan ini. Mungkin banyak orang yang sadar bahwa kadang ada hal-hal yang tidak perlu dipertahankan.

Lagi pula kalau penawarannya lebih baik, kenapa tidak dicoba kan?

Lalu apa yang membuat bagi sebagian orang, termasuk aku, pindah kerja menjadi begitu sulit?

Bagiku, ya karena memang tidak mudah keluar dari zona nyaman kan? Zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman ini. Tapi kadang ketidaknyamanan yang sudah familiar rasanya lebih bisa ditoleransi. Sedangkan kalau pindah kerja, meskipun sebutlah penawarannya lebih baik, meskipun gajinya naik dan bisa jadi kehidupan finansial menjadi lebih baik, tapi ada banyak hal yang masih belum tau akan seperti apa. Bisa jadi aku akan menghadapi rasa tidak nyaman yang tidak familiar dan itu membuatku takut. 

Kecuali memang punya alasan yang kuat semacam perusahaan lama mau bangkrut, ancaman PHK di perusahaan lama, atau memang gajinya sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup. Atau kadang-kadang kita juga punya alasan personal lainnya seperti pindah ke kota yang diimpikan, kepastian status karyawan, dekat dengan keluarga atau pekerjaan yang sesuai passion.

Pada akhirnya memang pindah ke tempat baru akan selalu membutuhkan alasan yang kuat. Lebih kuat dari ketakutan yang hinggap. Alasan yang mampu mendorong kita untuk berani bergerak.

Lalu bagaimana jika aku gak yakin dengan apa yang aku cari?

Aku yakin diluar sana ada ribuan orang yang berharap bisa menggantikan posisiku bekerja di pekerjaan lamaku. Karyawan tetap, gaji naik tiap tahun, bonus, THR, fasilitas kesehatan, dan jelas bukan perusahaan kaleng-kaleng.

Tapi entah kenapa dan bagaimana, dorongan untuk untuk pindah begitu kuat. Sangat kuat hingga aku gak bisa memproses semua perasaan yang muncul, gak bisa berpikir jernih, overwhelmed. 

Harusnya sih disini aja ya, kan udah nyaman. Tapi kok pengen pindah ya? Kenapa ya aku entah kenapa pengen pindah? Padahal disini enak. Pengen pindah tapi kok takut ya? Nanti bisa ngurus anak ga ya? Nanti sibuk banget ga ya? Nanti orang-orangnya supportif ga ya? Kerjaanya beda tapi sama yang sekarang. Bisa ngejar ga ya? Bisa perform ga ya? Keliatan bego ga ya? Tapi udah tua, masih bisa belajar ga ya?

Itu sebuah transformasi besar di pusahaan yang aku bekerja saat itu. Membuka peluang ribuan karyawan untuk pindah ke anak perusahaan. Iya betul, ada benefit secara finansial yang menggiurkan. Tapi jelas terlalu kecil untuk mengkompensasi semua risiko yang bisa timbul saat itu.

Ayolah, semua orang saat itu berusaha mencari tempatnya masing-masing. Transformasi organisasi mana yang membuat nyaman? Semua orang jelas mencari perlindungan. Sebagian besar memanfaatkan untuk kabur dari situasi rumit, sebagian mencari perlindungan agar tidak masuk ke situasi yang rumit.

Aku gimana?

Seperti menghadapi sebuah persimpangan takdir. Sulit sekali. Iya, aku gak tau apa yang aku mau. Semua nasehat bermuara ke satu kesimpulan yang sama. Tetap disini.

Apa lagi yang dicari seorang perempuan beranak satu yang sebentar lagi tenggelam dalam usia? Apalagi yang dicari ketika semua nyaman sudah ada di depan mata? Karir macam apa yang dikejar? Pekerjaan macam apa yang dicari?

Ada ragu. Ada perasaan bersalah pada keluarga. Ada ketakutan karena aku tidak familiar dengan pekerjaannya, dengan lingkungannya, dengan orang-orangnya.

Alih-alih diam ditempat meredakan ragu, aku menantang diriku sendiri, bergerak kesana kemari mencari tau apa yang membuat takut. Menantang untuk menghadapi rasa tidak nyaman yang tidak familiar ini.

Pada akhirnya aku memilih untuk pindah.

"Menjadi perempuan, menjadi ibu itu sulit ya. Tapi barangkali Kayla bisa belajar dari ibunya tentang bagaimana ia harus berusaha mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan." - kata seseorang.

Saat itu, aku kembali merenungi perjalanku menjadi ibu 7 tahun belakangan. Rasanya ada banyak hal yang terjadi. Ada banyak hal yang aku lakukan. Ada banyak hal berubah dariku. Prioritasku berubah, cara berpikirku berubah, tidak lagi tentang aku tapi selalu tentang anakku. Dan di satu titik aku menyadari bahwa tidak adil bagi siapapun, terutama anakku, untuk menyebut apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah pengorbanan. Karena nyatanya aku sendiri yang memilih untuk melakukannya. 

Dan aku memilih untuk menjadi ibu yang sadar dengan pilihanku, bukan menjadi ibu yang berkorban untuk anaknya.

Iya, aku memilih pindah. Seperti semua orang pada umumnya, aku mencari tempatku sendiri. Tempat yang kuharap bisa menjadi ruang yang nyaman untuk tumbuh dan merasakan bahagia.

Selain juga karena aku menyadari bahwa aku tidak terlalu fit dengan pekerjaan lamaku. Dari semua sisi. Ternyata bersyukur di waktu yang tidak tepat itu tidak selamanya benar ya. Kadang hanya akan membuat keadaan menjadi lebih rumit. Perasaan yang tidak tervalidasi. Usaha-usaha yang terlalu keras untuk baik-baik saja. Semacam pretend to be happy.

Tentu aku bisa menyadari semua itu ketika pada akhirnya aku keluar dari lingkaran itu dan menengok kebelakang untuk melihat semuanya lebih jelas dari kejauhan.

Jadi apa kesimpulannya? 😊

Tidak ada. Tidak semua cerita harus ada kesimpulannya. Kadang ia hanya sebuah cerita yang perlu diceritakan atau perlu didengar 😂.

Satu hal yang aku yakin adalah untuk percaya pada insting. Tuhan memberiku berbagai macam perasaan-perasaan yang rumit ini bukan tanpa alasan. Dia ingin menunjukkan sesuatu. Dan kadang melihat terlalu dekat itu membuat pandangan kita bias, kita perlu sedikit menjauh dan melihatnya kembali untuk bisa menikmatinya.

Dan untuk semua perempuan dan ibu diluar sana, terlalu banyak membuat keputusan demi keluarga itu bukan hal yang bijak. Rasa lelah kadang membuat kita merasa terlalu banyak berkorban padahal semua keputusan kita yang mau. Kadang kita perlu membuat keputusan demi diri kita sendiri. Semua anak berhak punya ibu yang bahagia.

Saturday, August 3, 2024

Apa iya semua sekolah swasta sama?

BY Maya Pratiwi No comments

Aku butuh waktu 4 tahun untuk memutuskan SD yang pas buat Kayla.

Katanya, "people will give effort to what important for them". Mungkin semesta mengamini usahaku. Aku belum juga punya rumah ketika tiba waktunya Kayla masuk SD. So yah, aku tidak mempertimbangkan jarak rumah ke sekolah karena dimanapun sekolahnya maka aku akan mencari tempat tinggal di dekatnya.

Jika benar semua sekolah sama, aku kira tidak akan banyak sekolah swasta bermunculan. Jika benar semua sekolah sama, aku kira tidak akan ada akreditasi dan sejenisnya. Dan jika benar semua sekolah sama, maka kita tidak akan pernah mendengan narasi tentang sekolah favorit. Memang, kualitas sekolah itu tidak bisa diukur dari nilai ekreditasi, atau biaya bulanan, atau jumlah siswanya. Karena kualitas sekolah bagiku sangat subjektif. Dan itu juga akan tergantung seperti apa kualitas penilainya.

Pertama, aku & suami merasa punya privilege karena punya cukup tabungan yang membuat kami lebih leluasa memilih sekolah untuk Kayla. Karena banyak orang yang tidak punya banyak pilihan karena keterbatasan biaya. Kedua, memiliki pasangan yang punya visi yang sama untuk pendidikan anak juga sebuah privilege penting buatku. Banyak orang tua yang aku yakin belum punya goals yang jelas untuk pendidikan anaknya. Merasa bahwa sekolah hanyalah sebuah bagian kehidupan yang seyogyanya memang harus dijalani. Bahkan mungkin mereka tidak benar-benar paham sekolah macam apa yang anak-anaknya masuki.

Aku merasa beruntung punya 2 (dua) privilege itu, jadi aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku kesampingkan rumah baru, mobil cantik, dan barang-barang branded. Bukan karena aku tidak mampu atau tidak ingin. Tapi karena aku punya prioritas lain. Kalau kata orang, pendidikan anak adalah investasi, maka seharusnya kita benar-benar  perlu memikirkan portofolio apa yang paling bagus kan? Dan kayaknya ini juga bukan sebuah pengorbanan ya, karena bagaimanapun juga ini bentuk tanggung jawab pada anak.

Rumah sejatinya hanya sebuah tempat berteduh dan mobil hanya sebuah sarana. Tapi anak-anak adalah penolong saat nanti orang tuanya tiada. (kata orang yang duitnya pas-pasan kaya aku)

Ada banyak sekolah berbasis agama di kota ini. Tapi ya aku tidak mau menutup mata. Karena kadang itu hanya judulnya saja, tidak tercermin dari kehidupan di dalam sekolahnya. Karena bagiku, keyakinanku pada satu agama itu tidak hanya melekat pada "ritual" keagamannya saja. Wow sungguh berat statementku barusan. Ya artinya, pun jika itu memang sekolah agama aku akan tetap melakukan survey dengan kurikulum dan kegiatan belajar mengajarnya. Tidak serta merta menyerahkan pilihanku begitu saja.

Jadi sekolah seperti apa yang aku cari?
Oooh jelas macam-macam 😅. Pada awalnya banyak hal yang aku inginkan. Aku ingin sekolah yang bisa membantu Kayla mengenal dirinya sendiri. Sekolah yang tidak hanya menilai Kayla hanya dari satu sisi yang mereka mau saja. Sekolah yang toiletnya bersih. Yang ini, yang itu. Macem-macem. Sangat demanding ya. Tapi setelah survey ke lebih dari 10 sekolah (baik yang survey onsite, online dan nanya-nanya ke temen) akhirnya aku memutuskan untuk memasukkan Kayla ke sekolah yang tidak untuk semua orang. Bukan karena mahalnya tapi karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihat value dari sekolah itu. Karena aku yakin setiap sekolah itu punya segmen-nya masing-masing. 

Katanya, sekolah swasta itu tipikal sekolah "nyaman". Dan tidak ada pahlawan yang lahir dari keadaan nyaman. Apa iya sekolah yang membuat Kayla nyaman akan melemahkannya? Hhhmm yaa aku juga tidak tau. Kehidupan masa kecilku sendiri tidak seberuntung orang beruntung 😌, masih bisa aku rasakan kemarahan masa kecilku kepada orang-orang b******k yang aku yakin punya andil pada kehidupanku saat ini. Jadi aku harap di lingkungan yang nyaman itulah ia bisa lebih tenang mengeksplorasi dunia. Alasan yang sama mengapa taman bermain anak-anak dialasi sandbox atau bantalan karet.

Katanya, anak-anak yang sekolah di sekolah swasta itu kurang membumi dan barangkali kehidupannya terlalu ideal untuk menjajaki kehidupan sesungguhnya. Masa sih? Memangnya kamu tinggal dimana? Tetanggaan sama Rafi Ahmad? Memangnya kamu satu circle sama Maudi Ayunda? Kalau aku sih masih tinggal di komplek perumahan yang kalo anaknya tetangga nangis masih bisa kedengeran sampe rumah (saking sempitnya rumahku), masih suka keliling naik motor sore-sore nyari gorengan, masih lebih suka beli sayur di pasar meski becek, masih mikir-mikir kalo mau beli baju di shop** atau makan malem cuma mi rebus doang juga masih kok. Hidup aku mah masih membumi, cuma sekolah anakku aja yang kalo bisa jangan di negeri. Wkwkwk becanda

Yaaa kalau boleh berandai-andai. Andai dulu aku gak diketawain saat belajar bahasa inggris, aku yakin aku bisa belajar bahasa inggris lebih cepat dan bisa kuliah di luar negeri. Andai dulu lingkungan sekolahku supportif, aku gak akan menahan diri karena takut bertanya lalu bisa jadi lebih hebat dari sekarang. Andai lingkunganku ga rese, aku yakin aku bisa lebih berani bersuara untuk diriku sendiri. Andai teman-temanku tidak merundungku gara-gara aku ranking 1 terus, mungkin aku bisa lebih percaya diri dengan kemampuanku. Dan perandaian lainnya yang membuatku yakin bahwa aku harus ngasih ruang yang tepat buat Kayla.

Dan kamu tidak lupa kan sekarang ini dunia sudah menjadi seperti apa? 

Bangun dan lihat sekelilingmu. Dunia sudah berubah. Kedamaian dan lingkungan yang aman seperti saat kita kecil dulu sudah hilang dan berubah. Apa kamu tidak pernah melihat, membaca, atau mendengar berita pembunuhan, penculikan, kekerasan seksual, pornografi? Apa kamu pikir orang-orang masih sama seperti dulu?

Iya, rasanya aku ingin bilang kalau, "bukan dunia yang berubah, itu hanya aku yang terlalu takut". 

Tapi, bagaimanapun juga. Jangan terlalu percaya sama tulisanku. Aku bisa berpendapat seperti ini karena seperti yang aku sebutkan di atas, aku punya privilege. Andai aku tidak punya privilege, niscaya tulisanku tidak akan seperti ini. Pun karena anakku baru 1. Kalau latar belakang kita beda, prioritas kita beda, dan tujuan kita beda maka akan sangat mungkin kita juga berbeda pandangan soal ini kan? 

Tapi saran aku sih, kalau kamu punya uang lebih, jangan pelit soal sekolah anak. Karena sekolah, apalagi sekolah dasar itu akan anak-anak kita bawa sampai selamanya di kehidupan dia. Dan karena sekolah gratis itu belum untuk semua kalangan dan semua sekolah, jadi kenapa gak sekolah gratis kita prioritasin buat mereka yang kurang mampu aja? Kamu yang mampu, sekolahin tempat lain.