Monday, January 29, 2018

Cinta apa adanya atau cinta buta?

BY Maya Pratiwi IN , , , No comments

imagesource : google

Akhir akhir ini aku lagi suka beli lipstik. Haha gaya banget emang, secara dulu aku ga suka dandan dan kayak ga peduli penampilan. Hhmmm hhmmm bukan bukan, aku bukan tipe cewek yang naturally udah cakep tapi habis itu sok bilang "aku ga suka dandan, aku ga tau alat make up", ini mah ga dandan juga uda cakep ye kaan :(

Tapi seriusan ya, Mungkin saking gak bangetnya penampilanku, salah seorang mas mas dikantor yang habis kepo instagram abang bilang gini "aku tadi kepoin instagram rudy. Maya cantikan yang sekarang ya, dulu keyiying jelek banget". Hahaha jujurnya jahat.

Tapi setelah si mas ngomong gitu, aku jadi flashback masa kuliah. Emang enggak banget sih. Muka kusam ala anak kos yang datang dari dusun hahaha. Trus habis itu aku mikir, untung banget lah ya ada yang masih mau sama aku wkwkwkwk.

Kalo kata lagunya "Thank You Love" - Jose Mari Chan (aku lebih suka versi Sierra Soetedjo)

Thank you for the smile
That never fails to brighten my day
For the tender look
When you gaze at me with eyes that warm my heart
For the music of your laugther,
Touch that makes my pulse go faster
Thanks for all the memories of a lifetime
Thank you for the fire that you have set ablaze within me
With your kisses you´ve awakened
This old heart from its slumber
I feel like 17 again,It´s all because of you
Thanks for choosing me from all the rest
Though I´m far from being the best.
Most of all I want to thank you, love,for loving me

Lagunya sweet banget sih ini >.<
Meskipun banyak yang lebih cantik, meskipun banyak yang lebih mapan, meskipun banyak yang lebih cerdas, meskipun banyak orang yang lebih dariku, tapi babang Rudy tetep mememilihku jadi istrinya hihihi. Dan dia menerimaku apa adanya meskipun ga pandai bersolek, meskipun outfitku gak kekinian, meskipun masakkanku masih level beginner, meskipun kulitku tidak putih dan mulus, dan meskipun aku punya banyak kekurangan lainnya. Thanks for choosing me from all the rest though i'm far from being the best. Terimakasih abi hehe

Cinta apa adanya atau cinta buta? 
Hahaha. Yang jelas mungkin emang udah jodoh kali ya. Tapi ya bersyukur aja sih ketemu jodoh dalam keadaan yang masih seadanya. Dulu pas kuliah, abang yang gak kayak Rio Dewanto atau Zac Efron, taunya cuma pake jaket kegedean kayak pemadam kebakaran dan celana training yang bawahnya udah koyak. Paling banter kalo lagi ngajak makan ke kota ya pakenya celana kuliah sama kaos kaos seragam macem seragam lab atau seragam kepanitian. Aku mending lah ya pake celana jeans, agak kece kaan. Meskipun kerudung paris yang kala itu lagi hits cuma punya warna itu itu doang dan suka dikomplen abang karena rada smelly ga ku cuci beberapa hari wkwkwkwk. Uang jajan yang masih pas pasan, lulus kuliah juga masih nyari kerja dulu, pertama kerja juga gajinya pas >.<, modal seadanya pas mau nikah. Sekarang pas udah menikah juga kami memulai semua dari awal. Memulai menabung sedikit demi sedikit untuk membeli peralatan rumah. Menabung untuk masa depan dan menabung untuk mencapai mimpi-mimpi kami hehe.

Istilah "bersamamu aku bahagia" agaknya perlu sedikit diuji kebenarannya. Masih bisa bahagia ga sih kalo bareng dia disaat susah? Karena berumah tangga emang modalnya ga bisa cuma cinta, tapi komitmen juga kan yaaa. Uhuuuy hahaha

Aku harap nanti Kayla akan menemukan sosok yang hebat seperti abinya. Tidak perlu menjadi siapa-siapa. Tidak perlu mencari perhatian dengan hal yang macam macam, karena cinta yang tulus akan melihat apa yang tidak terlihat oleh mata. Seperti cinta orang tua pada anaknya, cinta yang datang bahkan sebelum sang anak terlahir di dunia.







Saturday, January 27, 2018

Working Mom

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

Imagesource : hopeforwomenmag(dot)com


Libur panjang yang tak berasa liburan. Meskipun sudah ambil cuti tapi tetap sibuk dengan pekerjaan kantor. Liburan yang pengennya bisa fokus sama keluarga, bisa jadi healing time, cuma jadi angan angan doang. Dan ga cuma aku sih, pasti kebanyakan orang yang bekerja kantoran pernah merasakan hal ini. Bukan piket atau lembur dikantor sebenernya, tapi lagi cuti atau hari libur dan gak dikantor tapi mesti handle kerjaan. Daaan liburan yang tak berasa liburan kali ini beda banget sih. Lebih berasa beratnya, lebih berasa ngeselinnya haha.

Dan beruntungnya, di hari pertama masuk kerja setelah cuti akhir tahun, aku bertemu ibu ibu kantor. Beliau adalah salah seorang Junior Manager dikantorku. Tanpa disangka, si ibu curhat gitu tentang hal yang sama. Liburan yang tak berasa liburan. Cerita tentang balada mamak mamak pekerja yang sudah jenuh dengan rutinitas kantor, tentang keluarga, dan lain lain. Saking bisa ngerasain apa yang beliau ceritain, aku udah berkaca-kaca denger cerita beliau >.<. Aaaak satu cerita banget lah kalo ibu ibu pekerja tuuuh yaaa. Ceritanya mah ya setipe setipe gituuu.

Dan pas aku tanya, "Ibu pernah ga kepikiran buat pendi atau resign gitu?". Ibunya bilang, "Ya pasti pernah apalagi kalo pas lagi pusing-pusingnya". Kadang aku pikir, ibu ibu yang bisa berkarir sampe level manager atau bahkan lebih diatasnya lagi adalah wanita super yang bahkan aku ga paham gimana mereka bisa menjalaninya. Apalagi ritme kerja di kantorku lumayan nguras waktu dan tenaga karena emang aku bekerja di perusahaan jasa yang harus siap sedia untuk melayani pelanggan. Aku yang baru level dasar dan baru 3 tahun kerja aja rasanya udah capek :D. Ya wajar aja sih sebenernya, dimana aja kita kerja pasti ada dinamikanya. Ada kalanya kita menikmati tapi ada saatnya kita jatuh dan merasa lelah.

Apalagi aku yang saat ini masih berjuang minta mutasi kerja. Lelahnya dobel kayaknya ya haha, lelah jiwa raga. Beberapa kali sempet kepikiran untuk resign aja kalo ga bisa mutasi. Tapi lagi lagi kalo mikirin mau resign tuh sama seperti alasan ibu junior manager yang mengurungkan niat pendinya gara-gara suaminya bilang "kamu mau ngapain kalo pendi? Udah biasa aktif kerja nanti dirumah doang bukannya seneng malah tambah uring-uringan". Sama persis dengan jawaban abi. ;)

Aku pun belum bisa jawab kalo abi tanya "mimi yakin baik-baik aja kalo resign dan dirumah aja?". Sebenernya aku kadang jawab mau bikin usaha, mau coba online shop, mau bikin ini, bikin itu. Tapi aku bahkan sampe sekarang belum memulai persiapan itu. Abi tau aku belum yakin dengan keputusanku karena aku tidak menjelaskan niatku dengan menggebu gebu. Karena biasanya setiap ibu, secara naluri dan alami akan terdepan dan jadi influencer. Macem nyari korden rumah, "ah yang warna biru ajadeh, pas sama cat rumah. Kalo warna coklat udah banyak yang punya.". Atau misal beli detergen, "Pah, nitip detergen ya. Belinya di toko A, yang merek X, itu biasanya udah sepaket sama sabun cuci piring. Ga papalah beli yang murah-murah aja, baju juga ga kotor-kotor amat kan ga kena lumpur. Ga wangi juga ga papa lagian kalo mau pergi-pergi masih pake parfum.". Gitu kan yaaa

Yaah gitu deh. Aku tau setiap wanita yang sudah menikah dan akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja dikantor pasti memiliki alasan dan tujuan. Mungkin untuk menambah penghasilan, mungkin berniat membantu suaminya, mungkin memang passion di pekerjaannya, bisa juga hanya untuk mengisi waktu luang, atau bisa jadi karena alasan lainnya. Dan ketika mereka punya anak dan masih tetap bekerja, itu artinya mereka bersungguh sungguh dalam bekerja. Aku cukup risih dan terganggu dengan pemikiran pemikiran orang yang seperti memandang sebelah mata ibu ibu pekerja. Mungkin mereka pikir ibu ibu pekerja sangat membuat repot perusahaan. Sering ijin, suka gak tepat waktu, tidak bisa diandalkan untuk lembur, atau untuk hal lainnya. Atau beberapa orang seperti mempertanyakan "kenapa ga dirumah aja sih, kan emang ibu tuh tugasnya ngurusin rumah dan keluarga". Aku juga merasakan hal itu. Banyak yang berempati tapi ada juga yang sebaliknya. Padahal ada banyak alasan kenapa ibu-ibu masih bekerja dikantor. Dan selayaknya itu ibu kita yang sedang bekerja, sisakanlah sedikit empati dan dukungan ke mereka. Pernah sih berusaha untuk buktiin kalo aku masih bisa diandalkan meskipun aku udah punya anak. Sebisa mungkin aku ga bikin excuse dengan alasan anak atau keluarga. Tapi ga berfaedah juga sih. Soalnya malah dikasih banyak kerjaan wkwkwk. Yaa bekerja seperlunya aja sih, keluarga tetep nomer satu :)

Untuk anakku kayla, kalo nanti dia besar. Aku ingin dia mengambil keputusan bersama keluarganya. Sepertiku yang sampai saat ini masih memutuskan untuk bekerja, aku ingin anakku memilih jalan yang ingin dilaluinya sepanjang ada niat dan tujuan baik yang dibawanya. Mau bekerja atau tidak aku harap itu terjadi bukan karena paksaan tapi memang keinginannya sendiri.

Tuesday, October 31, 2017

See You When I See You

BY Maya Pratiwi IN , , , No comments

Siang malam, suka duka, lahir mati, datang pergi, semua yang ada di dunia ini tercipta berpasangan. Kadang bahagia, kadang sedih. Suka atau tidak semua memang akan terjadi dan mau tidak mau harus dilalui. Dulu ketika aku masih sangat kecil, aku bisa menolak pergi berangkat sekolah dengan alasan mengada-ada seperti capek, males, atau karena bukuku hilang. Seiring berjalannya waktu, seiring aku tau tentang tanggung jawab, aku merasa sangat bersalah ketika aku bahkan baru berniat untuk bolos sekolah. Dan seiring banyaknya hal yang terjadi dalam hidupku, aku semakin tidak bisa menolak jika waktu telah datang mengantarkan takdir.

..........................

Pembuka cerita yang agak berlebihan ya? :D
Aku cuma mau cerita tentang rekan kerjaku yang mulai ambil cuti hamil akhir bulan ini sih haha. Bagiku sangat menyedihkan, baginya kebahagiaan. Kebahagian karena sebentar lagi bertemu malaikat-malaikat kecilnya dan bahagia sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan. 

Menyedihkan bagiku karena apa ya? Aku gak tau kenapa aku harus sedih. Padahal dia gak penting-penting banget dihidupku wkwkwkwk. Bahkan obrolan kami sehari-hari juga lebih banyak yang gak berfaedah :D. Atau mungkin nggosipin semua orang yang ada dikantor hahaha. Lebih sedih lagi karena aku tidak bisa berbagi kesedihan lagi dengannya. Yaaah, kata orang kan siapa sebenarnya teman kita terlihat saat kita terpuruk atau saat kita sedih. Karena memang saat bahagia, kita sering lupa sama temen sendiri wkwkwk >.<. Logic quote sih  :P

Dan aku berharap, saat rekan kerjaku kembali bekerja aku sudah tidak di Magelang lagi. Means that my transfer job request has been approved :D hehehe amin. Atau mungkin karena akhirnya aku memilih mengambil keputusan besar lainnya :)

Dari kiri ke kanan : Ratih, Mba Ayu, Maya


Anyway, selamat menjalani masa cuti melahirkan ya mbaak Ayuu :). Saatnya menikmati new phase as a mother. Semoga masa pemulihan setelah melahirkan cepat ya prosesnya. Cepat berlalu 3 bulan dan segera bekerja lagi hahaha, your job miss you already. Aku gak kebayang 3 bulan tanpa mba ayu, bagaimana kabar dikantor huhuhuu. Aaah sebenernya aku sedih karena mba ayu mau cuti atau karena ga ada yang handle kerjaannya sih :( hahaha

Dan pokonya apapun yang terjadi setelah melahirkan, harus dinikmatin yaa. Pasti akan ada banyak drama kehidupan. Posesif berlebihan, khawatir berlebihan, lebay, kerempongan ibu-ibu, dan sejenisnya tapi tetep harus strong ya mbak. Sehat-sehat terus mba ayu dan twins. Nih aku kasih sebuah nasehat yang bagus
"Being a mother is learning about strengths you didn't know you had and dealing with fears you didn't know existed"
Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini : "Menjadi seorang ibu adalah belajar tentang kekuatan yang bahkan kita ga tau kalo kita punya, dan berurusan dengan rasa takut yang gak pernah kita bayangin sebelumnya."


See you when i see you :)

Friday, October 27, 2017

Asisten Rumah Tangga : Nginep atau Enggak ?

BY Maya Pratiwi IN , , No comments

Selain sandang, pangan, dan papan, kebutuhan pokok berikutnya adalah Asisten Rumah Tangga (ART) :D. Betul kan mak?? >.<



Betul dong ya. Apalagi mamak mamak, baru punya anak, kerja, dan LDM sepertiku. Jasa ART tuh kebutuhan pokok hehe Nah rupa-rupanya nyari ART tuh gak gampang. Apalagi aku orangnya rada detail, pengennya yang gini, yang gitu, gak mau yang gini, maunya yang gitu. Dan lagi aku tinggal di Magelang, jauh dari orang tua, jauh dari keluarga, dan artinya aku harus pinter-pinter nyari ART yang terpercaya.

Oke, singkat cerita. Selama 11 bulan ini aku udah ganti ART 3 kali dan bulan ini adalah ART ke-4 ku :D. Ada apakah dan kenapakah ganti-ganti terus next time aku ceritakan. Nah ART pertama dan kedua emang nginep dirumahku. Namun untuk ART ketiga dan keempat aku nyari yang gak nginep. Yaa plus minus sih buatku.

Untuk ART Nginep, dari segi THP emang lebih tinggi ya karena itungannya mereka kan kerja keluar kota dan emang ART aku bawa dari kampung halaman di Cilacap. Dan ARTku ini gak cuma bantu ngurus rumah tapi juga jagain Kayla. Load pekerjaannya agak banyak yah hehe tapi ya. Tapi ya sepakat dari awal sih antara aku dan dia :D. Tapi ngebantu banget karena mereka tinggal dirumah kita kan jadinya kalo misal aku ada lembur atau harus keluar kota ga khawatir hehe. Terutama kalo pulang kantor tuh udah agak lebih nyantai lah karena ada yang bantu beberes dan masak. Tapi oh tapi ga enaknya kalo dia minta cuti, duuh khawatir banget kalo gak balik lagi atau pasti banget deh kalo molor baliknya. Tapi ini ceritaku yaaa, tergantung ARTnya juga sih ya hehe. Mungkin tergantung kitanya juga kali ya. Tapi ya gitulah meskipun perasaan kita udah baik sama mereka kadang tetep ada yang kurang klop. Dinamika per-ART-an lah ya hehe

Tetapi karena alasan privasi, untuk ART ketiga dan keempat aku nyari yang gak nginep. Ya pengen bebas aja sih dirumah hehe. Apalagi kadang ada beberapa orang yang (mohon maaf) suka nggosip kan ya. Dan aku gak suka banget jadi bahan gosip yang belum tentu bener. Apalagi kalo udah ngomongin masalah pribadi, duduuduh aku sih NO banget. Pengalaman gak enak aja sih gegara ART kedua yang suka nggosip hehe jadi aku memutuskan untuk nyari ART gak nginep. Meskipun ya jauh lebih rempong karena harus bangun pagi-pagi untuk masak dan pulang tepat waktu dan sampe rumah masih harus beres-beres dan macem-macem. Tapi aku jauh lebih tenang sih sekarang dan dirumah pun suka-suka hatiku mau berantakan, mau enggak, mau males-malesan seharian, mau jalan-jalan, mau kruntelan sama babang, mau ini mau itu pokoknya bebaaaaaas hehehe.

Aku gak punya niat untuk nyari ART nginep lagi sih. Karena cukup 2 kali punya ART nginep dan experiencednya gak terlalu baik. Tapi aku menyudahi pekerjaan dengan 2 ART pertamaku dengan baik-baik kok. Karena bagaimanapun juga mereka telah berjasa pada kita, telah mengasuh dan menjaga anak kita dengan setulus mereka. Dan experienced yang gak aku suka sebenernya bukan tentang pekerjaan tapi karena attitude. Cuman ya karena tinggal satu atap, setiap saat ketemu, meskipun pekerjaannya bagus kalo dari sisi attitude atau perilaku kita gak klop jadinya kan gak nyaman yaa. Selain itu memang ada alasan lain yang membuat pekerjaan harus disudahi. ART pertama karena si embak mau mantu, mau nikahin anaknya dan minta cuti sebulan. Ya repot juga ya kalo sebulan. Iya kalo balik lagi, kalo enggak gimana coba. Trus ART kedua karena anaknya si embaknya yang baru berumur 2 tahun sakit, hasil rontgen sih ada flek di parunya. Waktu itu Rontgennya aku anterin juga jadinya tau dan kata dokter emang harus rutin minum obat. Yaudalah alhasil mbaknya fokus ke anaknya dulu.

Layaknya mencari pekerjaan dan pendamping hidup, prinsipnya kan cari yang nyaman yaa moms :D

Thursday, October 26, 2017

The Devil Wears Prada (Review)

BY Maya Pratiwi IN , , , , , , , No comments


Wohooooops!! Ditengah hura-hara pekerjaan dan my motherhood, yang mana kondisi ini cukup membuatku tertekan dan ngerasa bahwa ujian hidup saat ngerjain Tugas Akhir tuh ga ada apa-apanya :D :D, aku teringat salah satu film favoritku, "The Devil Wears Prada".

Kisah tentang Andy yang diperankan oleh Anne Hathaway. Andy adalah seorang gadis yang sedang mengejar mimpinya menjadi seorang penulis. Akhirnya dia diterima disebuah Fashion Magazine ternama di New York. Bukan menjadi penulis tapi menjadi sekretaris Mrs. Priestly, seorang editor yang sangat disegani. Awalnya Andy kesusahan beradaptasi di kantornya dan merasa sangat tertekan karena Mrs. Priestly sangat perfeksionis, kaku, dan menurutku nyebelin. Meskipun akhirnya dia berubah menjadi karyawan yang sangat baik dan bahkan diandalkan oleh Mrs. Priestly. Andy bekerja sangat baik, bekerja keras demi “tidak mau kalah dengan keadaan”. Sayangnya keindahan karirnya tidak seindah kehidupan pribadinya. Gara-gara pekerjaanya yang menuntutnya selalu ready kapanpun Mrs. Priestly membutuhkannya, kehidupan pribadinya berantakan, dia kehilangan kekasihnya dan teman-temannya. Sebagai penonton aku ikut ngerasa gemes sama Andy, kenapa dia lebih mentingin karirnya dari pada keluarga dan teman-temannya. Tapii di akhir cerita, yang membuatku puas adalah adegan ketika Andy memutuskan untuk pergi dari pekerjaannya, saat telpon seluluernya berdering karena panggilan Mrs. Priestly, Andy sampe nglempar telponnya ke kolam. Waaaaaw super Andy!!!! Daan di film ini diceritakan ternyata gak cuma Andy yang mengalami hal serupa, Nigel yang bekerja sebagai Art Director juga bilang kalo kehidupan pribadinya hancur.
Nigel bilang. "Let me know when your whole life goes up in smoke. Means it is time for a promotion.". Terjemahan bebasnya sepeti ini "Kasih tau aku kalo hidup kamu hancur. Itu artinya saatnya kamu promosi" >.<

 Drama yang terjadi di film ini berjalan sangat alami menurutku. Alur ceritanya kayak based on reality gitu. Ya memang betul kan, di masa-masa sepertiku ini, masa ketika kebutuhanku meningkat dan aku dituntut untuk memiliki penghasilan sendiri karena gak mungkin dong minta orang tua terus, aku harus fight dan tough di pekerjaanku. Betapapun berat rasanya. Dan kadang rasanya hampir seperti terlena, dirumah masih ngurusin kerjaan, weekend masih ngurusin kerjaan, bahkan mimpi pun tentang kerjaan :D. Yaah mau ngeluh juga percuma sih. Namanya orang kerja emang gitu kan. Kalo ga mau kayak gitu ya gausah kerja aja atau jadi pengusaha aja yang bisa sesuka hati. Pengen dagang ya tinggal buka lapak, dapet duit. Males dagang ya tutup aja tapi ga dapet duit. Kalo mau lebih enak lagi ya jadi pemilik usaha, tinggal tunjuk-tunjuk doang :P
Percakapan Andy dan Nigel yang akhirnya menyadarkan Andy untuk berubah dan tidak mau kalah dengan keadaan

Andy saat masih cupu dan saat memutuskan untuk berjuang di pekerjaanya, dia mengubah penampilannya
Tapi bagian yang aku suka dari film ini adalah kita belajar mengambil keputusan. Seperti Andy yang memutuskan untuk berusaha mendalami pekerjaannya. Dia gak setengah-setengah, bener-bener ngerubah penampilannya demi pekerjaan. Bener-bener total dalam melayani Mrs. Priestly dan totalitas ketika harus nyari skrip novel Harry Potter terbaru yang bukunya belum diluncurkan untuk anak-anak Mrs. Priestly. Dan keputusan Andy berikutnya adalah ketika dia memutuskan pergi dari pekerjaannya yang glamour dan dicari banyak orang. Simpelnya adalah, kalo masih mau kerja ya ikutin aturan. Kalo udah ga kuat ya silahkan hengkang dari kantor :D. Karena kita di kantor tuh kayak batu kerikil di rel kereta. Penting sih tapi kalo ilang satu ya cincai lah nyari yang baru aja.
Ya meskipun perubahan harus diperjuangkan tapi kalo waktunya ga tepat dia cuma akan jadi sejarah, bukan masa depan :)
Well, mungkin hidup ini gak semudah itu ya guys, gak sesimple di film. Beruntung saat ini ada istilah galau yang bisa menggambarkan perkecamukan hati yang terombang ambing ombak dilautan. Jadi ya kamu harus bisa sekuat batu karang >.<

Sekian