Showing posts with label pekerjaan. Show all posts
Showing posts with label pekerjaan. Show all posts

Saturday, January 27, 2018

Working Mom

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

Imagesource : hopeforwomenmag(dot)com


Libur panjang yang tak berasa liburan. Meskipun sudah ambil cuti tapi tetap sibuk dengan pekerjaan kantor. Liburan yang pengennya bisa fokus sama keluarga, bisa jadi healing time, cuma jadi angan angan doang. Dan ga cuma aku sih, pasti kebanyakan orang yang bekerja kantoran pernah merasakan hal ini. Bukan piket atau lembur dikantor sebenernya, tapi lagi cuti atau hari libur dan gak dikantor tapi mesti handle kerjaan. Daaan liburan yang tak berasa liburan kali ini beda banget sih. Lebih berasa beratnya, lebih berasa ngeselinnya haha.

Dan beruntungnya, di hari pertama masuk kerja setelah cuti akhir tahun, aku bertemu ibu ibu kantor. Beliau adalah salah seorang Junior Manager dikantorku. Tanpa disangka, si ibu curhat gitu tentang hal yang sama. Liburan yang tak berasa liburan. Cerita tentang balada mamak mamak pekerja yang sudah jenuh dengan rutinitas kantor, tentang keluarga, dan lain lain. Saking bisa ngerasain apa yang beliau ceritain, aku udah berkaca-kaca denger cerita beliau >.<. Aaaak satu cerita banget lah kalo ibu ibu pekerja tuuuh yaaa. Ceritanya mah ya setipe setipe gituuu.

Dan pas aku tanya, "Ibu pernah ga kepikiran buat pendi atau resign gitu?". Ibunya bilang, "Ya pasti pernah apalagi kalo pas lagi pusing-pusingnya". Kadang aku pikir, ibu ibu yang bisa berkarir sampe level manager atau bahkan lebih diatasnya lagi adalah wanita super yang bahkan aku ga paham gimana mereka bisa menjalaninya. Apalagi ritme kerja di kantorku lumayan nguras waktu dan tenaga karena emang aku bekerja di perusahaan jasa yang harus siap sedia untuk melayani pelanggan. Aku yang baru level dasar dan baru 3 tahun kerja aja rasanya udah capek :D. Ya wajar aja sih sebenernya, dimana aja kita kerja pasti ada dinamikanya. Ada kalanya kita menikmati tapi ada saatnya kita jatuh dan merasa lelah.

Apalagi aku yang saat ini masih berjuang minta mutasi kerja. Lelahnya dobel kayaknya ya haha, lelah jiwa raga. Beberapa kali sempet kepikiran untuk resign aja kalo ga bisa mutasi. Tapi lagi lagi kalo mikirin mau resign tuh sama seperti alasan ibu junior manager yang mengurungkan niat pendinya gara-gara suaminya bilang "kamu mau ngapain kalo pendi? Udah biasa aktif kerja nanti dirumah doang bukannya seneng malah tambah uring-uringan". Sama persis dengan jawaban abi. ;)

Aku pun belum bisa jawab kalo abi tanya "mimi yakin baik-baik aja kalo resign dan dirumah aja?". Sebenernya aku kadang jawab mau bikin usaha, mau coba online shop, mau bikin ini, bikin itu. Tapi aku bahkan sampe sekarang belum memulai persiapan itu. Abi tau aku belum yakin dengan keputusanku karena aku tidak menjelaskan niatku dengan menggebu gebu. Karena biasanya setiap ibu, secara naluri dan alami akan terdepan dan jadi influencer. Macem nyari korden rumah, "ah yang warna biru ajadeh, pas sama cat rumah. Kalo warna coklat udah banyak yang punya.". Atau misal beli detergen, "Pah, nitip detergen ya. Belinya di toko A, yang merek X, itu biasanya udah sepaket sama sabun cuci piring. Ga papalah beli yang murah-murah aja, baju juga ga kotor-kotor amat kan ga kena lumpur. Ga wangi juga ga papa lagian kalo mau pergi-pergi masih pake parfum.". Gitu kan yaaa

Yaah gitu deh. Aku tau setiap wanita yang sudah menikah dan akhirnya memutuskan untuk tetap bekerja dikantor pasti memiliki alasan dan tujuan. Mungkin untuk menambah penghasilan, mungkin berniat membantu suaminya, mungkin memang passion di pekerjaannya, bisa juga hanya untuk mengisi waktu luang, atau bisa jadi karena alasan lainnya. Dan ketika mereka punya anak dan masih tetap bekerja, itu artinya mereka bersungguh sungguh dalam bekerja. Aku cukup risih dan terganggu dengan pemikiran pemikiran orang yang seperti memandang sebelah mata ibu ibu pekerja. Mungkin mereka pikir ibu ibu pekerja sangat membuat repot perusahaan. Sering ijin, suka gak tepat waktu, tidak bisa diandalkan untuk lembur, atau untuk hal lainnya. Atau beberapa orang seperti mempertanyakan "kenapa ga dirumah aja sih, kan emang ibu tuh tugasnya ngurusin rumah dan keluarga". Aku juga merasakan hal itu. Banyak yang berempati tapi ada juga yang sebaliknya. Padahal ada banyak alasan kenapa ibu-ibu masih bekerja dikantor. Dan selayaknya itu ibu kita yang sedang bekerja, sisakanlah sedikit empati dan dukungan ke mereka. Pernah sih berusaha untuk buktiin kalo aku masih bisa diandalkan meskipun aku udah punya anak. Sebisa mungkin aku ga bikin excuse dengan alasan anak atau keluarga. Tapi ga berfaedah juga sih. Soalnya malah dikasih banyak kerjaan wkwkwk. Yaa bekerja seperlunya aja sih, keluarga tetep nomer satu :)

Untuk anakku kayla, kalo nanti dia besar. Aku ingin dia mengambil keputusan bersama keluarganya. Sepertiku yang sampai saat ini masih memutuskan untuk bekerja, aku ingin anakku memilih jalan yang ingin dilaluinya sepanjang ada niat dan tujuan baik yang dibawanya. Mau bekerja atau tidak aku harap itu terjadi bukan karena paksaan tapi memang keinginannya sendiri.

Tuesday, October 24, 2017

Kita Cuma Beda Komptensi kok :D

BY Maya Pratiwi IN , , , , , , , , , , No comments

Seperti kebiasanku dan Abi setiap malam, telponan. Tadi malam topik obrolan kami lumayan berat, tentang jurusan perkuliahan yang akan diambil abi. Hahaha itu sudah termasuk topik berat dan serius ya, karena biasanya kami hanya ngobrolin tetangga, temen kantor, tingkah-tingkah kayla yang lucu atau sekadar gak jelas menirukan ocehan kayla.


Topik semalem ngingetin aku saat masa-masa kuliah. Aku mahasiswi Teknik, fakultasnya sih elektro tapi prodi telekomunikasi. Dan di kala itu, booming banget issu tentang mahasiswa IPK 4 yang abal-abal. Buanyaaak sekali bermunculan opini dan tulisan tentang bagaimana seharusnya mahasiswa yang ideal, yang bukan kupu-kupu (kuliah pulang - kuliah pulang), yang bisa seimbang antara hardskill dan softskill. Sebenarnya bagus sih tapi dalam perkembangannya, muncul kelompok mahasiswa yang beropini negatif sama mahasiswa yang IPKnya tinggi, yaa mahasiswa cumlaude abal-abal itu. Sayangnya sekaligus beruntungnya, IPKku termasuk bagus. Dan aku risih dengan opini yang berkembang di kampus. Merasa terdiskriminasi hahaha.

Sebutlah aku salah jurusan, atau sebutlah aku gak cocok jadi anak teknik atau sebutlah passionku bukan di bidang teknik. Tapi i was doing good at class, jadinya nilaiku gak jelek-jelek amat. Aku ngerasa gak bodoh bodoh banget sih meskipun dalam penerapan ilmuku juga gak gitu ngerti banget wkwkwkwk :D. Tapi justru karena sesungguhnya kemampuanku rata-rata dan karena aku tetep butuh tiket dong buat dapet kerjaan yang bagus, makanya aku belajar dengan baik. Yaa realistis aja sih tujuan aku kuliah kan biar cari kerjanya lebih gampang kan. Nah karena aku rata-rata, tiket masuk biar lolos ke rekruitasi perusahaan bagus ya pasti dari nilai. At least aku lolos dulu lah dari sisi administrasi, entar pas wawancara ternyata user tekniknya ga cocok, minimal masih bisa ditampung lah sama user non teknik :D. Ya kalo dari sisi ilmu aku rata-rata, dari sisi nilai aku juga ga bagus-bagus amat, masa depanku suram dong yaa. Mana sense bisnisku belum terasah banget, mau jadi pengusaha juga ngeri kan :D. Nah untungnya, meskipun aku bukan ahli dibidangku, tapi aku cukup rajin lah. Aku bisa baca bisnis proses dan melakukannya dengan cukup baik, kemampuan koordinasi, negosiasi, problem solving juga ga buruk-buruk banget, jadi cukup baik untuk masuk nominasi karyawan teladan >.<

Dan saat ini aku bekerja disebuah perusahaan telekomunikasi. Aku bekerja dengan banyak orang dari latar belakang ilmu yang berbeda-beda. Kebanyakan emang orang teknik, tapi dalam perjalanannya, keahlian yang lebih terasah dari masing-masing orang teknik itu beda-beda. Ada orang teknik yang memang terasah betul ilmu tekniknya sehingga mereka masuk ke unit teknis. Sebagian orang teknik lainnya terasah sisi managerialnya sehingga mereka bisa keluar masuk unit manapun. Termasuk aku yang sekarang sedang di marketing. Itulah kenapa perusahaanku mengakomodasi dual career track. Expertise dan Managerial. Jadi nanti akan ditemukan GM (Managerial) setara dengan Principal Expert (Expertise).

Jadi pada intinya adalah bahwa setiap orang tuh punya kompetensi masing-masing yang kita ga bisa maksa untuk dibanding-bandingkan. Mungkin kompetensiku bukan sebagai expert di bidang ilmuku tapi sebagai staff managerial. Perusahaan ga akan maju kalo isinya expert semua, pun begitu kalo isinya staff managerial semua. Terlalu dangkal dan jahat menurutku mengembangkan issu sensitif terkait IPK :P . Gak semua yang IPK Cumlaude tuh abal-abal, ada juga yang emang bagus, pun sebagian mungkin betul abal-abal. Dan gak semua yang IPK kecil tuh gak cerdas, yang passionnya tinggi malah bisa jadi ahli. Tinggal liat aja goal dia apasih pas kuliah. Kalo dia bilang tentang passion, bisa jadi dia terlalu fokus dengan penelitiannya sehingga kuliahnya terbengkelai. Kalo goal dia karir dan pekerjaan, pasti dia akan berusaha mencetak cumlaude. Dan ga ada yang salah dari keduanya, hanya beda jalan suksesnya aja sih :). So, stop judging and underestimate others yaa :) :)


Monday, May 22, 2017

Passion?

BY Maya Pratiwi IN , , , , , No comments

source : http://theinspirationroom.com

Tergelitik dengan presentasi anak OJT yang baru bergabung di kantor tercinta, 2 atau 3 miggu lalu. Presentasinya tentang perbedaan Gen Y dan Gen X. Yang menarik adalah tentang pernyataan bahwa “Gen Y cenderung mengikuti insting passion mereka dalam bekerja”
Sebenernya aku pun sering membaca tentang hal ini. Dan teman-temanku banyak yang memilih berhenti dari bekerja lalu mengerjar mimpi-mimpinya. Tapi tidak sedikit juga yang tetap memilih karir saat ini, apalagi bagi para gen Y yang masih ngambang tentang arti passion yang sesungguhnya, sepertiku. HAHAHAHA
Akibatnya adalah, setiap kali aku lelah dengan pekerjaan, pasti ujung-ujungnya aku merasa bahwa pekerjaan ini ga sesuai dengan passion ku. Gak tau ya, mungkin aku terdoktrin dengan teori-teori tentang GenY, tentang perjuangan mereka mengikuti passion mereka, sehingga aku merasa bahwa setiap GenY idealnya adalah mereka akan mengikuti insting Passion mereka. Jadi ketika aku lelah dengan pekerjaanku, yang akan menjadi kambing hitamnya adalah “passion” dan akhir dari drama keputusasaan ini adalah mengancam “aku mau resign aja”.
Tadi dilain hari, mungkin ketika hari gajian tiba atau hari ketika ada perjalanan dinas berlebihan, aku bisa merasa sangat bersyukur dengan pekerjaanku, sangat bersemangat dan menggebu-gebu untuk tetap bertahan disini. 
Aaaah, dilema yang tiada ujung kan
Lalu kesimpulannya apa?
Kesimpulannya adalah, coba jangan lihat keatas terus, sesekali lihat kebawah. Coba evaluasi alasan kamu bekerja. Kalo butuh uang yaudalah tahankan kerja disitu aja, kalo ga butuh uang ya coba aja ngikutin mimpi-mimpimu selagi sempet.

*Hahaha kesimpulannya ngeselin banget dah -____-”


Wednesday, December 21, 2016

Mensyukuri Sibuk

BY Maya Pratiwi IN , , , , , , No comments

Image by brilio.net
Ada banyak alasan orang mengeluh dalam pekerjaan. Sebagian mengeluh karena banyak pekerjaan, sebagian mengeluh karena gaji, sebagian lainnya mengeluh karena atasan yang tidak baik, atau alasan-alasan lainnya. Untuk kebanyakan pegawai yang masih muda biasanya keluhannya karena banyak beban kerja. Hhhmm hhmmm 

Lalu bagaimana jika Anda dibiarkan begitu saja? Apa Anda merasa lebih baik? Atau masih mengeluh juga?

Seandainya ada seorang pegawai yang memulai hari dengan sangat semangat, tapi sesampainya di kantor dia tidak tau harus berbuat apa dan tidak seorangpun memberinya pekerjaan. Apa pendapat anda dengan pegawai yang seperti ini?

Mungkin sebagian dari Anda akan berbicara tentang inisiatif, sebagian dari Anda mengomentari atasannya, atau justru Anda berandai-andai ada di posisi pegawai tersebut? :) Saat ini saya tertarik untuk berkomentar tentang Anda yang sedang sibuk atau sangat sibuk dengan pekerjaan. Terkadang di hari yang sibuk, 24 jam sehari rasanya tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan, baik pekerjaan dikantor atau pekerjaan dirumah. Belum selesai Anda menyelesaikan pekerjaan hari ini, ternyata esok hari telah datang dan pekerjaan baru sudah menunggu. Begitu seterusnya sampe akhirnya datanglah keluhan :D. Saya kira ini sangat wajar dan umum terjadi pada sebagian besar pegawai. Jadi untuk apa sebenarnya Anda mengeluh? Toh namanya orang bekerja memang seperti itu, lelah. 

Kadang Anda terlarut dalam ketidaksukaan Anda sendiri pada pekerjaan yang banyak dikantor sampai lupa untuk menikmati pekerjaan. Akhirnya Anda akan menghabiskan sepanjang hari untuk mengeluh dan performansi kerja menjadi tidak maksimal. Selain itu Anda terjebak dengan stress yang sebenarnya bisa dikelola jika Anda bersedia menerima keadaan dan tetap berpikiran positif. Bukankah sangat menantang menyelesaikan pekerjaan yang bertubi-tubi datang? Bagaimana dengan pekerjaan baru? Pekerjaan baru artinya Anda belajar hal baru, artinya jika pekerjaan serupa datang Anda sudah bisa mengerjakannya dengan lebih baik. Belajar hal baru, menemukan masalah baru, itu membuat Anda menjadi lebih kaya. Anda menjadi lebih mengerti dari pada rekan Anda. Pekerjaan yang bermacam-macam tidak lain adalah jalan Anda untuk jauh lebih mendalami pekerjaan, dan lihatlah suatu hari nanti Andalah ahlinya dalam pekerjaan tersebut :D

Jadilah penting !!! karena jika Anda biasa-biasa saja, Anda tidak berani mengambil pekerjaan yang banyak itu atau pekerjaan baru, maka Anda kehilangan kesempatan menjadi orang penting. Bukankah sangat menyenangkan menjadi seseorang yang penting? yang kehadirannya sangat ditunggu, yang ketidakhadirannya bisa mengacaukan segalanya?? Jangan biarkan ada atau tidak adanya Anda dikantor tidak membawa pengaruh apa-apa bagi sekitar :)

Jadi, kenapa Anda tidak memulai menikmati kesibukkan Anda saat ini?

Karena...

Tidak mengerjakan apa-apa sungguh membosankan. Dibiarkan begitu saja oleh atasan bukanlah hal yang baik. Itu bisa jadi karena atasan sudah tidak percaya pada Anda, meragukan kemampuan Anda, atau juga beliau tidak suka pada Anda :p. Selain itu, tidak ada pekerjaan di kantor itu membuat hidup terasa hampa, datar, tidak ada tantangan. Lihatlah orang-orang yang tidak sibuk itu, datang dan pergi ke kantor seperti tanpa nyawa. Mengerjakan pekerjaan seadanya lalu bingung harus ngapain lagi. Menguap menahan kantuk, lalu menghilang saat jam istirahat, dan bahkan tidak ada yang menyadari keberadaannya :(

Tapi bagaimana jika pekerjaan yang banyak ini seperti tindakan eksploitasi? Sebutlah Anda sedang di manfaatkan oleh atasan Anda, sehingga pekerjaan yang bukan tugas Anda pun harus Anda kerjakan. Hhhhhmmmm bukankah itu juga pertanda baik? Artinya Anda bermanfaat ! Anggap saja pekerjaan Anda lainnya sebagai sedekah, maka selain Anda mendapat gaji bulanan sepertinya Anda juga mendapat pahala bulanan :D

Jadi, berhentilah mengeluh dengan pekerjaan yang banyak. rem stress Anda. Berhentilah mencari alasan yang membuat Anda semakin tidak suka dengan kesibukan Anda. Berhentilah mencari perlindungan dengan dalih yang bermacam-macam. Nikmati kesibukan Anda dan bersyukurlah karena Anda sibuk ! :)

Bersyukurlah saat dirimu bermanfaat, jangan kesal kalau dimanfaatkan. Di saat orang lain tidak bisa mengambil manfaat darimu, tunggulah waktunya kamu disingkirkan. - A. Baihaqi (karyawan BUMN, 24 tahun)

*Ditulis kembali di indepth.id