Monday, September 12, 2022

Momen masuk SD

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

Mencari sekolah untuk anak bagiku bukan perkara mudah. Sangat sangat sulit dan bahkan sampai membawaku harus beberapa kali konsultasi dengan psikolog. Aku punya pengalaman buruk saat aku SD, bullying. Tidak bermaksud mewajarkan bullying dikalangan anak-anak tapi aku tau kasus seperti ini sangat banyak terjadi.

Menjadi anak salah satu guru di tempatku bersekolah tidak serta merta memberiku privilege seperti orang lain, setidaknya tidak seperti yang mereka bayangkan. Lucky me, aku langganan ranking satu. Mungkin mereka pikir itu bukan karena kemampuanku sendiri, tapi karena ibuku seorang guru. Sepanjang yang aku ingat, mereka ga cuma menyerangku secara verbal tapi juga fisik. Aku pernah dilempar bungkus minuman kotak, pernah dilempari kertas, pernah dilempari kodok, pernah diludahi, pernah juga di pukul pake kayu. Ditertawakan saat maju kedepan kelas, tidak ada yang boleh duduk sama aku, diancam setiap kali ulangan/ujian gak ngasih contekan. Dan seniat itu mereka selalu ngganti meja dan tempat dudukku jadi yang paling jelek dimanapun aku duduk. Sinting memang 😆😅

Teringat suatu pagi, maya kecil berkata pada dirinya sendiri "Aku pernah mengalami hari yang buruk dan akhirnya hari buruk itu berlalu. Jadi aku pun bisa menghadapi hari ini". Baiknya Allah padaku memberikan aku perlindungan hingga aku masih bisa hidup dan berdaya hingga saat ini. 

Entah berapa kali aku menangis tapi tentu saja orang akan menganggap biasa anak-anak yang menangis karena ulah temannya bukan? Tidak jarang mereka bilang "masa gitu aja kalah, lawan balik lah", "masa gitu aja nangis". Haha, kukira aku tidak sekuat kalian untuk menghadapi mereka dengan perlawanan. Aku sudah cukup kuat dengan melawan rasa takutku sendiri untuk pergi kesekolah. Jika boleh aku memberi saran, beberapa anak terpacu untuk melawan dan bisa jadi itu baik buatnya tapi beberapa anak hanya ingin seseorang menemaninya untuk menghadapi rasa takutnya. Sama dengan beberapa orang yang lagi curhat itu tidak butuh solusi tapi hanya butuh didengarkan.

Ingin rasanya memeluk Maya kecil, mengusap kepalanya, mengecup keningnya, menenangkan tangisnya, membesarkan hatinya. 

Aaah, menjadi ibu rupanya membuatku membuka dan merawat kembali aku kecil yang pernah terluka :'). Luka lama yang bertahun-tahun aku simpan, aku jaga agar tidak tampak dari permukaan tapi terbuka kembali saat momen masuk SD harus aku hadapi lagi sebagai seorang ibu.

Akumulasi pengalaman itu yang akhirnya membentukku saat ini. Tidak ingin menyalahkan siapapun, tapi tidak juga ingin melupakan apa yang pernah terjadi. Hanya saja aku tau bahwa masa laluku tidak mendiskripsikan aku dimasa depan. Menjadi apa aku dimasa depan adalah hasil keputusanku saat ini.

Sempat viral saat itu, seorang artis muda yang membuat geger karena video youtubenya yang meluapkan ekspresi marah dan menangis dan membuatnya disangka mengalami gangguan jiwa. Jika boleh aku sampaikan, itu hal yang ingin aku lakukan setiap kali aku mengingat masa kecilku. Ingin rasanya aku sampaikan pada orang diseluruh dunia betapa jahatnya teman-temanku. Ingin aku sebut namanya satu-satu, mengharapkan mereka menangis berlutut meminta maafku, lalu aku lihat hidupnya hancur seperti hancurnya perasaanku dulu. Ah tapi nanti aku disangka gila juga 😂

Enggak lah..

Salah satu dari mereka pernah meminta maaf dan seingatku aku maafkan. Ya apalagi yang harus aku lakukan? Menahan maafku juga tidak membuat masa laluku berubah menjadi indah. Apa bedanya aku dengan mereka jika tidak berani memberikan maaf? Jangan samakan aku dengan mereka, meskipun memafkan bukan berarti melupakan. Dalam konteks ini, memberi maaf bagiku seperti mengatakan bahwa, oke aku tidak akan membalas apapun, silahkan pergi.

Aku berusaha untuk berdamai dengan masa laluku. Aku berusaha merawat kembali aku yang dulu. Tidak lagi aku membandingkan diriku dengan orang lain karena orang lain tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Meskipun masih tersisa ketakutan besar jika apa yang terjadi padaku akan terulang pada Kayla. Aku berharap tidak tapi sungguh ketakutan itu tidak bisa aku redam. Aku tidak mau sembarangan mencari sekolah untuk Kayla. Aku mau Kayla bersekolah ditempat dimana dia dimengerti, dipahami sebagaimana dia adanya. Sekolah yang fokus pada kesehatan mental murid-muridnya. Karena aku tau betapa berharganya, betapa mahalnya bisa tumbuh dewasa dalam lingkungan yang sehat diawal-awal kehidupan kita. Meskipun dunia tidak seindah yang kita pikirkan, aku mau Kayla tumbuh dengan jiwa dan raga yang sehat agar dia siap menghadapi dunia.

Aku tidak selamanya akan disisinya, dia harus tau bahwa aku mencintainya dan akan selalu ada bersamanya. Dia harus tau bahwa dia punya teman-teman dan orang terdekat yang ada untuknya. Dia harus tau bahwa dirinya sendiri adalah teman terbaiknya yang layak dicintai dan bagaimana dia bisa berdiri dan berdaya dengan dirinya sendiri.

Sunday, September 11, 2022

Not Okay - Movie Review

BY Maya Pratiwi IN No comments

 

image source : wikipedia 

Aku agak surpised karena endingnya ga bahagia seperti kebanyakan film. Tapi menarik, film ini menggambarkan tentang seseorang yang berambisi ingin populer sehingga dia merancang kebohongan tentang pengalaman traumatisnya yang pada akhirnya berhasil menarik simpati banyak orang. Ada quote yang menggelitik "Your pain is you biggest asset". Sebuah satire yang mewakili kehidupan saat ini. Kebanyakan orang "menjual" rasa sakitnya untuk menarik simpati banyak orang, lalu populer, dan ambil benefit dari rasa sakitnya itu. Ga semua memang yang seperti itu tapi banyak.

Apalagi saat ini jamannya orang lebih aware dengan mental health, motivational quote, dan kind of these things. Ketika rasa sakit kamu itu bisa kamu kemas dengan apik, bisa ngasih inspirasi buat banyak orang, jadilah rasa sakitmu itu sebagai aset. Tapi ya ga selalu sih, karena seringkali juga saat hidup kita biasa-biasa, sedang kesulitan, dan tidak famous ya teman-teman kita hanyalah gelap malam :(

Sama sih kaya karakter Danni Sander di film ini. Awalnya dia merasa kesepian dan ga punya temen. Once she "accidentally" being popular, most of her friends pay attention to her. Ya pada akhirnya karena mendapatkan kesenangan dan jadi populer, orang akan melakukan apa saja untuk mempertahankan kepopulerannya. Iya kan??

Sejujurnya aku agak sedih sih endingnya karena Danni Sander ga dapet maaf dari temen baiknya 😝. Ya karena aku sebagai penonton memahami kalo she didn't mean it, sayangnya dalam kehidupan nyata kita yang menjalani tidak bisa sekaligus menjadi penonton yang bisa melihat sebuah kejadian dari berbagai sudut pandang, ya kan? Bisanya jadi komentator yang terus memberikan komentar dari sudut pandangnya aja.

Kalo menurutku, film ini bagus. Meskipun aku yakin sebagian besar orang akan paham konteksnya tapi tetap tidak akan membuat mereka berubah karena having good understanding does not give you a privilege like popularity.

Monday, May 30, 2022

Kerja Rodi Jaman Sekarang

BY Maya Pratiwi IN , , , , No comments

 

Story WA saya

Saya kerja emang baru 8 tahun sih, belum senior tapi bukan anak baru juga. Selama 8th kerja saya sering dapet ekskul tapi baru kali ini saya ngerasain kecewa banget sih. Kalian pada tau ga sih kegiatan ekskul dikantor?

Itu loh, dikasih kerjaan yang bukan kerjaan utama. Contohnya biasanya kaya jadi panitia agustusan dikantor gitu. Tapi ragam kegiatan ekskul lebih beragam dan absurd. Jangan mikir penugasan satgas-satgas gitu termasuk ekskul ya. Satgas beda lagi dia karena lebih jelas. Yang ekskul ini meskipun ada penetapan, biasanya saking absurdnya, atasan kita sampe lupa itu gawean yang mana. Atau karena lupa jadi absurd? Tapi kenapa bisa lupa coba kalo emang ga absurd? Nah kan. Biasanya kerjaan ekskul ini hecticnya udah 11-12 lah sama kerjaan asli

Saya kecewa banget sih karena, namanya ekskul itu kan sebenernya ada sebuah unit yang punya tugas lalu mendelegasikan (pake kata delegasi biar keren) tugas tersebut ke orang lain yang beda unit. Ekspektasi saya, kalo elu ngedelegasiin tugas elu ke orang lain ya harusnya elu yang mastiin si orang ini udah dapet ijin dari atasannya dong ya. Kalo ijinnya belum jelas kan riskan juga.

Itu kejadiah tuh sama saya ketika saya udah sukarela ngerjain ekskul, lalu bos saya agak rese ngomongin prioritas, lalu yang punya ekskul angkat tangan (masalah internal ceunah). Kagak usah ngomong siapa yang salah siapa yang bener dah, ribet. Entar yang ini ngomong begini, yang ono ngomong begono. Saya? jelas ga mau dibilang ga bisa mrioritasin kerjaan saya. Udah mah saya kalo meeting kalo ga jam 7 pagi lagi berangkat ke kantor, jam set12 menjelang istirahat maksi, jam 5 sore pas dijalan pulang, atau malah kadang malem. Baru sekali saya kegep lagi meeting ekskul pas dipanggil bos, diungkit-ungkit lah. Sampe saya berani bilang "ini kegiatan ekskul udah 4 bulan. Ada gak bapak liat kerjaan saya ga beres?". Gilaa bangga saya sama diri saya sendiri bisa berani menyuarakan kebenaran 👏

Kagak tau terimakasih emang tu yang punya ekskul ya. Udah nambahin kerjaan saya, bukannya makasih, malah pura-pura bego gitu pas saya dapet masalah. Males saya, disini saya sultannya. Elu kagak mau support yaudah nyooh saya balikin kerjaan, kerjain dewe. Saya ga perlu validasi dari siapapun kalo saya karyawan yang punya integritas dan bermanfaat. Kagak usah divalidasi, saya tau saya berintegritas, inisiatif, tanggung jawab, bermanfaat, karyawan baek-baek. Cari aja sana orang lain yang mau kerja rodi sama elu. Toh saya digaji bukan buat ngerjain ekskul (emosi 😂)

Bos saya ga beda sih, kebangetan juga. Ente ga liat ini ada karyawan punya inisiatif tinggi, berdedikasi ke perusahaan gini? Bukannya di support, disolusikan, dimusyawarahkan baek-baek. Ya kalo ga ngedukung mending ente ngomong langsung ke yang ngasih ekskul, bilang ini staf ane jangan dikasih ekskul. Elu jadi bos kan punya wewenang buat ngomong pak, jangan kaya kroco gitu lah, ga berani bersuara. Kalo mau ngedukung ya jangan belagak ngomongin prioritas. Lagian ini ekskul bukannya urusan pribadi kan, buat perusahaan juga.

Makanya pada hati-hati ya. Anak-anak baru tuh biasanya masih haus akan validasi. Pengen divalidasi dulu kalo emang karyawan teladan makanya nurut bener disuruh-suruh. Ya ga papa sih, bener, ga salah. Kalo lempeng-lempeng aja nanti jadi ga punya banyak pengalaman. Tapi ati-ati dimanfaatin lu. Cepet-cepet jadi manager kalo perlu biar suara didengar.

Kadang ngerjain ekskul tu seru memang. Ada rasa kebosanan yang ga bisa diungkapkan kalo kita kerjanya monoton itu lagi itu lagi. Makanya ngerjain ekskul itu masih diminati, meskipun sukarela. Sama lah kaya kenapa mahasiswa yang tugasnya udah banyak tapi masih mau-maunya ikut kepanitiaan/ormawa/lab/kegiatan lainnya? Karena ada kepuasan tersendiri yang didapatkan, entah apapun bentuknya ya tergantung masing-masing orang. Dan somehow mendapatkan kepuasaan itu membuat bahagia. Jadi emang yang bikin masalah itu bukan kerjaan ekskulnya, tapi bagaimana perilaku dan kebiasaan orang-orang yang membuatnya menjadi tidak sehat.

Dan aku mungkin salah juga karena berekspektasi terlalu tinggi atau tidak terlalu tangguh untuk berjalan melawan badai. Tapi aku belajar bahwa meminta bantuan orang lain itu tidak salah asal kamu tau caranya berterimakasih dan membantu orang lain belum tentu benar ketika kamu tidak bisa mengelola ekspektasi.

Thursday, October 1, 2020

Berusaha

BY Maya Pratiwi No comments


Ini bulan kedua saya merintis usaha makanan. Ada banyak hal yang saya pelajari selama 2 bulan ini.

Oh ya, mungkin suatu hari akan saya ceritakan kenapa saya memulai usaha ini. 

Bukan kali pertama saya berjualan. Dikantor pun saya pernah menjadi Account Manager yang salah satu tugasnya ya berjualan. Meyakinkan orang untuk membeli, menjangkau banyak orang agar tertarik, dsb. Saya juga pernah berjualan baju anak-anak dari merk yang sudah dikenal banyak orang.

Tapi kali ini berbeda. Saya menjual produk saya sendiri. Banyak yang tidak yakin dengan produk saya, saya rasa 😆. Termasuk orang-orang terdekat saya. Atau mungkin saya aja yang baper? 😁 gataulah

Memulai sebuah usaha sampingan bagi saya bukannya tidak bersyukur atas apa yang sudah Allah berikan pada saya. Saya hanya berusaha, andai kamu mengerti. Tapi saya juga ga memaksa siapapun untuk mengerti dengan apa yang saya yakini.

Ya manusia kan berusaha untuk sesuatu yang mereka yakini. Saya tau rezeki sudah ada yang mengatur. Semua mahluk terlahir sudah dengan rejekinya masing-masing. Tapi bukankah tugas kita berikhtiar menjemput rezeki itu? 

Oh ya tentang jualan saya. 
Mungkin sekarang belum banyak dikenal, belum juga terkenal, mungkin penjualannya masih sedikit, mungkin banyak yang harus saya perbaiki. Tapi saya tidak bisa melupakan masa-masa ketika saya ingin menyerah. Ketika percobaan percobaan membuat cookies hanya berakhir di tong sampah. Yang bahkan saya sendiripun tidak ingin memakannya. Saya hampir menyerah ketika saya merasa tidak mendapat respon baik dari orang-orang terdekat saya. Saya hancur ketika ternyata apa yang saya yakini , hanya saya yakin, tidak ada yang lain. 

Btw, untuk pak suami. Terima kasih tidak cukup untukmu. Kamu sangat berarti!

Tapi ini bukan akhir yang saya inginkan. Saya melihat ada banyak orang yang berjuang lebih keras dari saya. Yang tidak selesai dengan satu atau dua kali percobaan. Yang begitu yakin dengan apa yang diyakininya. Yang lelahnya bisa jadi belum terbayar tapi usahanya tidak pernah surut.

Kadang dalam diam, saya merasakan begitu kuat keyakinan keyakinan saya sendiri. Mimpi mimpi saya, keinginan saya.

Jika memang Tuhan punya rencana lain. Jelas itu bukan jangkauan saya. Itu tugas Nya. Tugas saya berusaha, tidak menghakimi hasil, tidak pula menerka nerka apa yang terjadi. Saya hanya ingin yakin bahwa saya sudah berusaha, saya sudah berikhtiar. Saya tidak ingin doa doa saya hampa tanpa arti. Biarkan Allah yang memutuskan muaranya, jangan saya, jangan juga kamu.

Saya ingin menjadi lebih berarti bagi orang-orang yang sedang berusaha. Seperti saya berharap ada banyak doa dan semangat yang orang berikan untuk saya. Saya tidak akan menghakimi siapapun dengan usahanya. Saya bukan tuhan, saya tidak tau apa yang akan terjadi. Saya doakan yang terbaik untuk mereka. Jika mereka yakin dengan yang mereka yakini, saya akan yakin untuk ada dibelakang mereka :) Insyallah

Semangat bagi yang sedang berjuang. Semoga Allah memberkahi jalan kita. Aamiin


Thursday, July 16, 2020

Kerja : Staf Kalo Kebanyakan Bos

BY Maya Pratiwi IN No comments


Staf kalo kebanyakan bos itu kaya orang punya pacar sekaligus selingkuhan.
Sotoy hahaha 😝

Ngumpet-ngumpet kalo kerja
Suka ngumpet-ngumpet kalo kerja ga? Saya iya kadang-kadang kalo mendesak.
Pura-pura fokus meeting sama bos asli tapi padahal secara sembunyi-sembunyi juga chattingan sama bos yang satunya, lapor kerjaan, diskusi atau ya cuma say hi aja 😂. Atau gak ijin mau kemana dulu padahal mau ikut meeting sama bos yang satunya.

Kenapa harus ngumpet-ngumpet??
Ya karena saya ngerti bos asli saya ga suka kalo saya fokus sama kerjaan lain. Secara emang saya digaji tuh untuk jadi staf dia kan. Jadi kalo saya malah sibuk ngerjain kerjaan dari orang lain pasti dia ga suka lah. PADAHAL masih di satu perusahaan yang sama lho. Bukannya saya dobel job di perusahaan lain tuh enggak.

((Bukan beneran ngumpet-ngumpet sih. Cuma kadang lagi ngerjain tugas dari bos yang itu tiba-tiba kaget karena ditanyain tugas dari bos asli trus habis itu bilang "oh iya ini pak/bu dikit lagi". Padahal lagi ngerjain yg lain kan))

Bos sebenernya ga suka kalo kita ngerjain tugas lain diluar kerjaan yang dia kasih !!
Itu terlihat jelas ketika seharian tuh bisa nanyain kerjaan berkali-kali. Perasaan ngasih kerjaannya barusan, kenapa udah ditanya sih. Atau kayak berkali kali ngingetin betapa penting dan mendesaknya pekerjaan ini.
"May, prioritas ini dulu ya soalnya buat meeting besok"
"Gimana May udah beres? Segera dikirim ya mau saya review dulu"
Dan itu ngomongnya mukanya datar gitu. Atau gak chat cuma di read doang. Disebut apa lagi kalo gak lagi bete? 

Juga sebenernya kenapa saya ngumpet-ngumpet itu karena males kalo jadi panjang gitu sih. Kalo misalnya jawab jujur, kadang tuh responnya ga seperti yang saya inginkan. Bukannya dikasihani lalu dibantuin apa gimana kadang malah kaya dijutekin trus kaya malah diburu-burin gitu kan atau malah diceramahin. Kadang sih ada juga bos saya yang diem aja ga komen, tapi sikap dia jadi dingin, males aja saya liatnya. Jadi bikin saya ngerasa bersalah juga kan, jadi bikin ga enak. Nah kalo udah kaya gini males kan memperpanjang komunikasi. Jadi yaa buru-buru ganti tab aja biar ga ketauan lagi ngerjain apa 😉

Iya iya tau emang harusnya jujur aja. Tapi ya gitulah liat sikon, kalo ga mendesak ya ga jujur. Kalo mendesak ya jujur

Eh bentar. Kalian ngerti ga sih maksud cerita saya ini?
Ini bukan cerita "office romance" ya. 
Jadi gini. Saya punya bos dan bos saya punya bos. Bosnya bos saya nyuruh saya juga bantuin di tim lain, tim beda bos gitu. Jadi seakan-akan saya kerja di dua bos. Dan biasanya para bos ini awalnya setuju setuju aja sama idenya bosnya tapi ujung-ujungnya juga r*se.

Suka banyak drama
Kalo mau ketemu sama Bos selingkuhan itu kayak ditahan-tahan gitu sama bos asli. Atau kaya sengaja ngadain meeting padahal udah tau harus ketemu sama bos satunya. HAHAHAHA geli banget. Tapi ini trueeee saya pernah ngalamin. Asli padahal itu bisa ditunda, bisa digantiin, tapi ya tetep aja ngadain tepat pas saya ada event kerjaan di bos yang satunya 😓😅

Tapi ya emang ga enak sih kalo punya staf yang selingkuh gitu. Soalnya saya pernah ngerasain ketika tim saya ada kerjaan sama orang lain. Saya bilang "tim" karena saya bukan bosnya. Jadi suatu saat saya punya tim dan salah seorang di tim saya dikasih kerjaan untuk ngebantuin tim lainnya. Saya ngerasain anak ini jadi ga fokus nih sama kerjaannya. Kadang jadi slow respon gitu. Malah saya yang jadi segan mau nanya progres ke dia 😕. Haaaah! Padahal kerjaan lagi banyak. Disini juga perlu bantuan tapi dia malah bantuin tim lain juga. Bete sih emang. Betenya macem-macem sih. Pengen kesel sama si anak tapi ya bukan salah dia juga. Kan yang mau punya kerjaan lain bukan dia, emang disuruh sama atasannya kan.

Jadi ya ga nyalahin bos yang bete lah kalo stafnya ngerjain tugas lain. CUMA ya mohon kita selesaikan bersama gitu lhoo enaknya gimana biar hidup saya agak santai

Kehilangan Logika
Sebagai staf tidak berdaya, harusnya merekalah yang menyelesaikan ditingkat para bos. Apalah saya bisanya cuma disuruh. Apakek pada saling bicara atau gimana gitu. Ya logikanya kan saya cuma staf, ngikutin apa perintah atasan lah. Atasan bilang kerjain nih kerjaan ini sama kerjaan itu maka saya kerjakan. Kalau anda tidak suka saya mengerjakan banyak pekerjaan ya tidak usah ngasih kerjaan tambahan. Atau gak sampein lah keberatan anda ke atasan. Minta atasan anda untuk jangan nambah kerjaan ke saya Sesimpel itu di pikiran saya yang cetek tapi mungkin beda lagi kalo di pikirannya bos. Gatau sih belum pernah jadi bos beneran jadi belum paham lika likunya.

Udah gitu kadang kaya malah sengaja di peras. Suka sengaja dikasih banyak kerjaan biar fokus di kerjaan utama aja jadi ga ngerjain kerjaan di bos yang satunya. Padahal ya siapa juga yang mau punya banyak bos yak!

Kalian sendiri yang ngasih kerjaan macem-macem ke saya, kalian juga yang saling memperebutkan saya. Emang saya apaan? Nanti kalo kerjaan di yang satunya itu ga achieved saya juga yang kena. Kan lawak namanya.
"Ya kamu harus bisa menentukan prioritas dong May"
"Belajar management waktu. Kalo bisa manage waktu harusnya sih bisa dikerjain semua"
"Berarti harus mau nambah jam kerja, itu konsekuensi" (arahnya kesini sebenernya)

SIAP PAK SAYA SALAH!! 

Jadi gimana doooong??
Yaaa udah gimana lagi. Terima ajalah
Kalo ada yang bisa kamu lakukan untuk menghentikan perdramaan ini ya lakukan. Kalo tidak bisa ya gimana lagi.

Kalo mengutip kata-kata pak Handry Satriago, CEO General Electric Indonesia, pas beliau lagi ngisi leadership training dikantor :
"Ada kalanya kamu emang harus tegas bilang sama manager kamu. Pak saya ga bisa terus menerus memprioritaskan bapak. Saya juga punya prioritas di tempat lain yang juga tugas perusahaan yang harus saya selesaikan"
Ces Ces Ces !! To the point !! Menghujam jantungku !! Gaya pak Handry sekali.
Cobain lah praktekin ngomong gitu ke bos kamu 😁

Sisi Baiknya
Kalo mau dicari ada ada aja sih sisi baiknya punya banyak bos. Artinya kamu emang dipandang mampu untuk melakukannya. Mungkin emang kapabilitas kamu diatas rata-rata jadinya kamu yang dikasih tugas spesial kan. Ya kecuali CUMA KAMU YANG MAU, bisa jadi sih karena yang lain pada nolak jadi tersisa kamu yang dipaksa. HAHAHAHAHA LOL 😈😁 ((tertawa sinis))

Tapi ya sebenernya secara pribadi saya merasa skill saya naik sih emang. Saya merasa produktif banget gitu dikantor. Bener-bener emang dateng ke kantor tu ya buat kerja gitu, ga buat ngobrol atau numpang internetan doang. Juga saya merasa lebih gesit dalam mengerjakan tugas. Ya karena kepepet sih jadi suka bikin pinter tiba-tiba. Plusnya lagi biasanya sih ada aja benefitnya, kaya misal mungkin dapet pelatihan gratis dari tim yang satunya. Atau bisa ikut event-event yang ga semua orang bisa ikutan. Dapet pengalaman baru yang ga semua karyawan dapet, bisa jadi kenal banyak orang, juga bisa lebih banyak belajar. Atau kadang dapet makan gratis, suka dapet fee kalo diajakinnya jualan ((hahaha)).

Banyak kok sebenernya manfaatnya, saya akui. Cuma saya ga suka kalo banyak drama para bos gitu.
Kalo asiknya sih ya tergantung kerjaannya lah. Kalo seru ya asik, kalo ga seru ya ga asik 😜.

Etapi kalo tentang karir sih gatau lah ya. Saya belum merasakan dampaknya ke karir. Saya pernah show off, caper sana sini biar keliatan biar di pindah ke Bandung ternyata juga ga mempan dulu. Hahaha 💩. Selain karena itu rejeki-rejekian, juga karena itu tergantung sama atasan kita ga sih. Kalo kebetulan dia tipe orang yang "sayang nih berlian kaya gini disini terus" mungkin dia akan promote kita. Tapi kalo tipenya "sayang nih berlian gini disuruh pergi" ya berarti selesai aja kamu disitu terus. MUNGKIN 

Gituu deh. 

Tapi tulisan ini ga bermaksud apa-apa ya. Saya cuma sharing aja. Siapa tau nanti anak saya pernah mengalami hal serupa atau diluar sana ada yang mengalami hal serupa ya berarti kita pernah di posisi yang sama. Atau mungkin nanti ada rejeki saya bisa jadi bos, saya bisa baca lagi tulisan ini biar jadi lebih bijaksana. Gausah baper

Cheers,
Maya